Refleksi Dini

Hati laksana rumah, dengan berbagai kamar dan ruang. Di setiap kamar, tersimpan ingatan tentang seseorang; peristiwa, suara, rupa, aroma, pilu, tertawa. Ada kamar yang terkunci, dan kuncinya dilempar jauh-jauh ke Semesta. Ada kamar yang terkunci, tapi kuncinya tak rela dicabut dari lubangnya. Ada ruangan yang pintunya terbuka lebar, selalu dikunjungi dari waktu ke waktu. Ada ruangan dan kamar yang diliputi seseorang dengan hebat dan masif.

Nistakah ketika ada dua, tiga, empat, atau entah berapa yang menarik-narik hati? Hingga kamar di dalam rumah hati menjadi berkali-kali lipat? Salahkah jika pemilik hati berulang kali mengunjungi kamar yang sama, sementara seluruh penjuru rumah dikuasai sepenuhnya oleh orang yang lain? Sanggupkah sang pemilik hati menghancurkan satu kamar ketika kamar itu terisi oleh kepiluan sepedih-pedihnya?

Karena ingatan seperti awan, bergumpal-gumpal, terserak, bergerak leluasa ke seluruh penjuru langit. Kadang seperti tiada namun kita tahu ada entah di sudut langit mana. Kadang seperti ada, tapi tipis hampir-hampir tak ternetra.

Sesudahnya: Pertemuan ke 101 (Epilog)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s