Pertemuan ke-100 (Beradu Rasa, Beradu raga)

Sebelumnya: Pertemuan ke-101 (Epilog)

Kepak burung besi yang membawa Puan Durga Umayi ke kota Kupang digoyang-goyang angin cukup kencang, cukup untuk membuat isi perutnya bergolak protes. Tampaknya cuaca siang yang cerah ini menyembunyikan bahayanya sendiri, meski matahari terang benderang tanpa terhalang awan sebagaimana dilihatnya dari lindungan kotak kaca tebal di jendela seukuran 40 x 40 cm2 pesawat Boeing  737-200 ini.

Belum lagi ia memang tak sempat makan pagi tadi. Kue dari maskapai penerbangan, yang entah kenapa semakin kecil ukurannya dari tahun ke tahun, tentunya tak cukup untuk memenuhi asupan kalori yang dihabiskannya semalaman, tak tidur mengepak pakaian, ketakutan ketinggalan pesawat jam 6 pagi dari Bandara Adi Sucipto Jogja, dan kemudian berlari-lari pindah dari terminal ke terminal di Bandara Juanda Surabaya untuk mengejar pesawat lanjutan ke Bandara El-Tari Kupang. Semakin siang, semakin bergolaklah perutnya.

Tapi ia tahu sepenuhnya, gejolak di lambungnya ini bukan karena goyangan angin kencang menepis sayap pesawat.

Pun bukan pula karena belum makan dan begadang sejak malam sebelumnya.

Dua hal itu tak akan mampu melemahkan Puan Durga Umayi, ibu tunggal beranak satu, aktifis di segala rupa gerakan gender, dan penerjemah profesional di bidang sosial politik. Kalau cuma berkelana naik pesawat, ini bukan kali pertama ia naik pesawat dengan cuaca yang tak bersahabat. Bukankah ia telah mengunjungi hampir semua pulau besar dan 30-an kota di Indonesia dengan menggunakan segala moda transportasi untuk berkampanye mengenai kearifan lingkungan berbasis gender? Mana yang lebih melelahkan raga: terbang di dalam pesawat terbang selama 3 jam ke kota Kupang dengan guncangan angin berkekuatan sedang atau berperahu speedboat selama 2 jam melawan ombak yang bergulung-gulung setinggi 2 meter dari Pulau Ternate ke Pulau Jailolo di Halmahera Utara? Begadang 2 hari 2 malam pun pernah ia lakukan kalau ia harus memenuhi tenggat waktu penerjemahan yang tak peduli perbedaan waktu antara bumi belahan utara dengan selatan. Memusatkan pikiran untuk mencari padanan kata yang wajar dan tepat untuk kata-kata sepanjang 300-an halaman selama 48 jam nonstop bukanlah hal yang baru buatnya.

Hanya ada satu alasan mengapa perutnya serba bergejolak, bergelora, tanpa dapat ditahannya, tanpa dapat ditolaknya: Kristofer Lukas. Kristo.

Kristo adalah alasan mengapa ia membatalkan pekerjaan terjemahan senilai 30 juta rupiah dari sebuah NGO internasional dari Amerika Serikat.

Kristo adalah alasan mengapa ia menolak mengikuti acara demonstrasi melawan pembangunan sebuah pabrik semen di suatu taman nasional di Kalimantan.

Kristo adalah alasan mengapa ia tak  bercerita banyak kepada orang tua dan anak lelakinya, pun sang pacar mengenai perjalanannya kali ini.

Kristo. Kristo. Kristo.

Demi Kristo, ia mendedikasikan hari Jumat, Sabtu, Minggu, dan Seninnya akhir pekan ini. Untuk bertatap muka. Untuk berdiskusi. Untuk bergandengan tangan. Dan mungkin bertukar ciuman ketika tak ada mata-mata yang melihat. Lalu sesudahnya, terserah Anda, di balik pintu penginapan.

Gejolak di perutnya tak kunjung reda, bahkan ketika ia telah menginjakkan kaki di tarmak Bandara El-Tari. Sebenarnya pemandangan sekeliling tarmak teramat menakjubkan.  Bandara El-Tari dikelilingi landainya bukit-bukit. Puan mendengar cerita dari teman-temannya yang pernah berkunjung ke kota Kupang, pemandangan dari bukit-bukit itu ke arah pantai dan laut lepas sungguh menakjubkan. Kota Kupang adalah cekungan teluk yang indah dan eksotis.

Tapi tak sedikit pun karya tangan Ilahi itu menyentuh indra pandangnya saat ini. Cuma satu yang ingin dilihatnya: wajah Kristo. Ah, sudah hampir setahun ia tak bertemu dengan lelaki itu. Meski hampir setiap dua tiga hari sekali lelaki itu mengirimkan foto selfie, tentu akan sangat berbeda memandangi wujud tiga dimensi dari wajahnya yang tirus kecoklatan, khas tampilan orang-orang dari bagian timur negeri ini. Dan mungkin akan lain sekali rasanya antara memandangi bentuk bibirnya yang penuh di foto dengan sensasi mengulum serakah bibir itu. Gila! Perutnya terasa semakin menggelepar.

Barang bawaannya tak banyak. Satu tas ransel warna merah untuk menampung pakaian dan kebutuhan pribadi selama menginap 4 hari 3 malam, dipanggul di punggung. Masih sempat juga ia menyelipkan sehelai gaun putih bercorak bunga-bunga kecil berwarna merah, di antara dua helai t-shirt warna hitam dan sepotong celana jins. Siapa tahu akan ada kesempatan untuk makan malam romantis di pinggir pantai bersama Kristo. Puan merasa ia harus tampil sedikit beda, sedikit “wanita” di hadapan Kristo. Ia memang tak membawa kotak kosmetika. Toh biasanya ia memang tak pernah mengulaskan bahan kimia apa pun di wajahnya. Tapi tak ada salahnya mengenakan sesuatu yang feminin. Demi Kristo.

Satu tas kain belacu berwarna putih bertuliskan “Save the Whales” ditentengnya. Isinya panganan serba Jawa: sekaleng gudeg kering yang dibelinya di rumah makan Bu Tjitro di Jalan Janti dalam perjalanan ke bandara dan sekotak bakpia Raminten yang sore sebelumnya ia beli dari toko Mirota Jalan Malioboro. Sekedar oleh-oleh untuk keluarga Kristo. Setahunya papa Kristo berasal dari Jawa, tepatnya dari Solo. Mungkin saja beliau kangen masakan Jawa. Bahkan ia membayangkan papa dan mama Kristo akan menyambutnya dengan istimewa. Khayalan tingkat tinggi!

Area kedatangan yang hiruk pikuk dilewatinya begitu saja. Di sana sini dilihatnya orang saling berpeluk cium, mungkin bertemu keluarga atau teman yang lama tak bersua. Karena tak ada barang yang dititipkan di bagasi, ia bisa melenggang kangkung keluar, tanpa perlu menunggu proses dikeluarkannya barang-barang dari bagasi di lambung pesawat. Ia tahu biasanya di bandara yang berada di luar Jawa macam di kota Kupang ini hanya ada 3-4 lajur pengeluaran bagasi. Bisa habis waktu 30-40 menit untuk menunggu barang bagasi. Biasanya ia juga suka melihat-lihat toko suvenir, mencari-cari magnet kulkas atau kain scarf lokal untuk dikoleksi. Tapi kali ini ia melewatkan beragam toko suvenir yang berlomba-lomba memajang barang-barang jualan mereka dengan apik. Ia tak sabar, tak tertahankan lagi untuk bertemu Kristo lagi.

Seraya mencari pintu keluar, ia mengeluarkan telepon pintar dari saku jaket flanel hitamnya. Dinyalakannya telepon, lalu ia mulai mengecek kalau-kalau ada pesan telpon atau SMS yang terlewat selama ia berada di udara. Tak ada panggilan dari Kristo. Tak juga ada pesan SMS dari lelaki itu. Mungkin ia masih di toko. Puan memang sengaja tak memberitahu Kristo bahwa ia akan tiba hari itu di Kupang. Biar kejutan. Puan paling suka memberi kejutan.

Tapi bukan cuma demi memberi kejutan hingga Puan tak mengabarkan kedatangannya. Ia juga mau tahu bagaimana reaksi Kristo ketika mereka bertemu. Apakah lelaki itu akan sehangat bunyi pesan-pesan mesranya di SMS dan twitter? Apakah lelaki itu akan senang menemuinya lagi setelah setahun berlalu dan setelah mereka sempat saling mendiamkan selama tiga bulan setelah insiden itu? Walaupun dua bulan ini segalanya berangsur normal, tak pelak Puan merasa gamang menemui Kristo lagi. Ia tak bisa meraba bagaimana perasaan lelaki itu setelah insiden yang membuat mereka tak berkomunikasi itu. Walaupun setelah fase saling mendiamkan itu berlalu, Puan pernah menanyai Kristo, bahkan setengah menginterogasinya, jawaban Kristo serba tegas, serba terang, seterang matahari di musim kemarau. Tapi yang namanya perasaan dan hati, siapa yang tahu?

Tiba di teras bandara, Puan menaruh kedua tasnya di lantai. Ia berdiri di bawah papan bertuliskan “area merokok”. Kalau ada satu kebiasaan buruk semasa kuliah S1 lima belas tahun yang lalu yang belum bisa dihilangkannya hingga sekarang adalah merokok. Tiga jam di dalam pesawat terbang sudah cukup membuat dirinya sakaw dan mulutnya terasa asam. Kalau ada yang menegurnya karena jengah melihat dirinya yang notabene seorang perempuan merokok, ia paling hanya bertanya balik, mengapa ia tak boleh merokok. Kalau urusan kesehatan yang jadi alasan, ia paling hanya menjawab bahwa ia sadar betul akan resiko-resiko kesehatan yang ditanggungnya akibat tindakannya merokok. Tapi kalau alasan tegurannya karena ia adalah seorang perempuan, ia bisa mati-matian mengajukan seribu satu tangkisan untuk membela diri mengapa ia sah-sah saja merokok. Tangkisannya yang paling gampang adalah “memangnya laki-laki diciptakan dengan satu jari tambahan untuk merokok?” Itu biasanya sudah cukup membuat lawan bicara terdiam. Apalagi kalau sudah mendengar nada bicaranya yang sama sekali tidak membuka kesempatan lawan untuk menyanggah. Pokoknya tidak ada gunanya berdebat soal merokok dengan Puan!

Sambil menghabiskan sebatang rokok putih, Puan menekan ikon di layar telepon pintarnya untuk menelpon Kristo. Hari kian siang dan bau segala rupa jajanan dan makanan dari restoran dan warung di teras bandara ini mulai mengusik-usik rasa lapar. Tak diperdulikannya orang yang lalu lalang, yang tanpa sadar memelototi seorang perempuan berjaket flanel, bercelana warna khaki, dan bersepatu hiking hitam tengah menghembus-hembuskan asap rokok, sambil menelpon.

“Halo?” suara bariton di seberang sana adalah nada suara yang sangat dikenal Puan.

“Hai, Kris.” Sapa Puan singkat tapi hangat.

“Apa kabar? Sori hari ini saya banyak kerja jadi. Belum sempat SMS. Mbak sibuk?”

“Sibuk dari jam 6 pagi tadi. Baru kelar barusan. Kamu udah makan, Dear?”

“Belum. Sebentar ada mau pergi makan. Mbak sudah makan?”

“Belum. Kamu mau temani aku makan?” tanya Puan yang disambut dengan jeda di seberang sana.

“Temani Mbak makan? Maksudnya sambil Mbak makan kita telponan? Mbak kan tahu saya tidak suka telpon disambi-sambi begitu.”Nada Kristo agak menaik. Puan tahu dia terganggu dan tidak suka. Soal satu ini Puan sudah mafhum. Alasan Kristo, ia selalu ingin konsentrasi pada orang yang diajaknya bicara dan disambil makan begitu membuat pembicaraan jadi tidak bisa dinikmati dengan penuh.

“Kamu di mana? Toko kamu di mana? Aku samperin pakai taksi ya?” Puan tersenyum membayangkan apa reaksi Kristo.

“Mbak di Kupang? Beneran?” Suara di sana terdengar menaik nadanya. Ah, ia terkejut. Puan tersenyum kecil puas karena kejutan membuahkan reaksi.

“Iya. Di Kupang. Kupang yang kotamu, bukan Kupang yang nama pasar burung di Surabaya.  Ini masih di bandara. Baru tiba sepuluh menit yang lalu.”

“Ah, yang benar? Saya tidak percaya.” Nada Kristo terdengar skeptis.

“Kalau tidak percaya, nih dengerin.” Puan mengacungkan teleponnya ke arah pengeras suara publik yang saat itu tengah memanggil penumpang pesawat menuju ke Denpasar selama beberapa detik, lalu kembali meletakkan telepon di telinga kanannya.

“Mbak, Mbak beneran di sini? Bukan di bandara kota entah di mana kan?” Masih saja Kristo menyanggah dengan nada tak percaya.

“Ah, sudahlah kalau kamu nggak percaya. Toko kamu di mana? Berapa menit dari bandara?”

Akhirnya mereka bersetuju untuk bertemu 30 menit kemudian di Restoran Nelayan, tak jauh dari Pantai Lasiana yang tersohor dengan pasir putih tanpa karangnya itu. Dengan menyewa taksi bandara, Puan melintasi Jl. W.J. Lalamentik, melintasi gedung olahraga Oepoi. Supir mengarahkan taksinya membelok ke arah barat daya. Di sudutnya gedung kantor gubernur propinsi Nusa Tenggara Timur berdiri dengan megahnya. Dikaguminya luasan taman hijau di mukanya yang dihiasi patung Komodo.  Lalu membelok arah barat laut, melewati gedung markas besar Polda NTT, memasuki pusat kota di Jalan Jendral Sudirman. Entah kenapa jendral besar revolusi kemerdekaan itu namanya paling sering dipakai untuk nama jalan. Apakah ada semacam konspirasi tentara besar-besaran untuk menguasai jalan utama di setiap kota di Indonesia sehingga setiap kali ia berkunjung ke kota mana pun di Indonesia, dipastikan selalu ada jalan yang dinamai dengan jendral penggerak para gerilyawan untuk melawan penjajah Belanda itu?

Seperti layaknya kota pantai lain, udara kota Kupang siang ini terasa gerah dengan sesekali ditimpa tiupan angin dari laut. Bau ikan dan asin garam menguasai udara, bercampur dengan bau asap knalpot kendaraan di pusat kota. Sebagai kota ibukota propinsi Nusa Tenggara Timur, Puan tidak merasa heran jika pusat kota Kupang pun sudah mulai disesaki dengan berbagai kendaraan. Bis antar kota, bersaing dengan angkutan perkotaan berwarna putih, serta mobil dan motor pribadi. Ini adalah kota yang tengah berpacu menuju kepada modernitas, yang identik dengan lalu lintas yang semakin padat dan gedung-gedung berarsitektur modern, namun entah kenapa terasa tak berjati diri.

Ia ingat perjalanannya ke beberapa desa di luar pulau Jawa bahkan pula di pulau Jawa. Sangat tipikal di sepanjang jalan berselang-seling ladang dan rumah-rumah penduduk. Semakin banyak model rumah yang entah apalah gaya arsitekturnya. Yang semakin sering terlihat, tak banyak yang masih beratap rumbia atau ijuk atau sirap. Bahkan semakin sedikit pula yang beratap genteng tanah liat. Atap-atap rumah semakin banyak yang beratap seng. Entah apa pertimbangannya sehingga atap seng lebih sering dipakai. Padahal di daerah tropis ini cuaca membuat rumah akan terpapar sinar matahari yang lebih menyengat diselingi hujan tropis yang jauh lebih besar butiran-butirannya. Tidakkah atap seng akan mudah menyerap panas matahari dan begitu berisik ketika hujan tercurah? Belum lagi ketika ada kebocoran di satu titik, seluruh luasan atap seng harus diganti. Tidak seperti genting tanah liat yang hanya memerlukan satu kotak untuk mengganti yang bocor. Ia semakin yakin bahwa terkadang kearifan lokal di banyak soal lebih tepat untuk daerah dengan karakteristik alamiah tertentu. Macam soal atap dan cuaca tropis ini.

Ah, kenapa pikirannya jadi melantur ke soal atap dan hujan? Ada urusan yang lebih besar yang harus dihadapinya dalam 4 malam 3 hari mendatang. Soal hati. Dalam soal hati, bisa jadi nalar menjadi beku. Yang masuk akal jadi tak berarti ketika hati sudah bersabda. Namun, memangnya ia tahu apa sabda hatinya? Dalam persoalan Kristo, ia buta tuli bisu tentang apa mau hatinya.

Dalam 4 malam 3 hari mendatang, ia mungkin akan tahu apa mau hatinya. Atau yang lebih optimis lagi, ia pasti tahu. Tapi beranikah ia sebegitu optimis? Dalam soal perhubungan macam ini, ada dua hati yang harus dimasukkan dalam hitungan. Hatinya dan hati Kristo. Kalau dalam soal hatinya sendiri saja ia masih tak tahu, bagaimana ia mau yakin soal hati Kristo?

Lambung yang melilit karena tegang menanti perjumpaan dengan Kristo sekarang ditambah dengan sakit kepala melogika perhubungannya dengan Kristo.  Memang berurusan dengan lelaki satu itu cuma bikin susah melulu. Puan mendesahkan keluh.

“Panas ya, Bu?” tanya si sopir, bersimpati pada penumpangnya. Tentu saja simpati yang tidak tepat. Bukan soal cuaca panas yang menjadi obyek keluhannya, tapi seorang lelaki misterius. Tapi tentu saja si sopir tak mafhum. Dalam hati orang siapa yang tahu?

“Iya, Pak. Masih jauh ya restorannya?”

“Itu sudah kelihatan dari sini, Bu. Yang atapnya tajam-tajam warna biru itu.”

Dan benar, semakin mendekat semakin tampaklah atap restoran nelayan yang serba segitiga, tajam menusuk langit kota Kupang yang biru. Tepat berada di tepi pantai. Puan kurang suka dengan bentuk atap restoran itu, tapi toh orang tidak boleh menilai buku dari sampulnya, kan? Lagi pula di mana pun pertemuan mereka terjadi, Puan akan tetap menikmatinya. Menikmati pertemuan mereka kembali, dan menikmati debar-debar di hati, mengantisipasi perjumpaan kembali dengan kekasih hati. Ah, bolehkah ia menyebut Kristo kekasih hati?

Kekasih. Ke-ka-sih. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kekasih berarti orang yang dicintai. Cinta? Apakah debar-debar di hatinya sekarang, dan perutnya yang seakan dipenuhi seribu kupu-kupu yang mengepakkan sayap ini, pertanda ia mencintai Kristo? Ah hati, sungguh sulit menerjemahkan segala pertanda hati, walaupun sebagai penerjemah profesional, ia tak pernah punya kesulitan berarti ketika menerjemahkan ribuan kata dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris atau sebaliknya.

Taksi memasuki halaman restoran. Dan ia melihat sosok Kristo di muka pintu. Tinggi, kurus, berkacamata, berambut ikal, dengan warna kulit kecoklatan. Seperti biasa, dan seperti dulu, ekspresi lelaki itu datar saja. Puan sering gemas dengan ekspresi wajah Kristo. Ia tak pernah bisa yakin apa yang sedang terpikir atau terasa oleh lelaki itu. Lagi-lagi, ilmu penerjemahan tak mempan untuk menganalisis lelaki itu.

Setelah membayar ongkos taksi sejumlah rupiah yang terpampang di mesin pencatat meter, Puan keluar dari taksi. Kristo langsung menghampirinya dan mengambil alih tas kain dari tangan kirinya.

“Sini, Mbak, saya yang bawa. Berat ya?” kata Kristo tanpa canggung.

Hmm, a true gentleman DOES exist in this age, pikir Puan mengagumi. Lelaki sejati masih ada di jaman ini ternyata. Untung juga Kristo langsung melakukannya, hingga ia tak sempat untuk menjadi gugup.

“Makasih, Kris. Sudah lama menunggu?”

“Baru saja. Mbak mau makan di dalam atau di pantai?”

“Ada tempat di pantai? Aku kira kita cuma bisa makan di dalam restoran.”

“Ada, Mbak.”

“Baiklah. Pinggir pantai saja yang adem.” Dan kupu-kupu di dalam perutnya pun semakin tajam mengepakkan sayap. Gugup luar biasa!

Gubuk rumbia di tepi pantai begitu mengundang. Di bawah ayunan rumbia, ada meja kayu sederhana, dengan empat kursi mengelilinginya. Ah, ini sederhana saja, pertemuan yang tak rumit antara seorang perempuan dan seorang lelaki. Yang tidak sederhana adalah dua hati, yang entah berkait berkelindan, entah tak bersambung di lini mana pun. Puan serba meragu.

Kristo sampai terlebih dahulu sampai. Meletakkan tas kain di salah satu kursi, memilih duduk di salah satu kursi yang dekat ke pantai, menata tempat tisu di meja dan vas bunga dengan gerakan yang tenang. Ah, Puan benci ketenangannya itu. Lelaki itu tampaknya santai saja menanggapi kedatangannya. Wajahnya datar, sedatar riak laut hari ini.

Puan memilih duduk di kursi di seberang Kristo, meletakkan ransel di bawah meja, melepaskan jaket flanel dan menggantungkannya di sandaran kursi, membuka ikatan rambut lalu membetulkan rambutnya yang sebenarnya masih rapi dan mengikatnya lagi. Reflek dikeluarkannya telepon pintar dari saku jins, menaruhnya di meja, dan mulai memencet-mencet tombolnya. Ah, sebenarnya aksi-aksi kecil itu tak perlu dilakukan jika ia tak gugup.

“Mbak, gugup ya?” Kristo menahan tangan Puan di meja, lalu menggenggamnya. Genggaman yang hangat, namun menambah debar.

“Mmm, iya.”

“Saya juga.”

“Jadi?”

“Saya kira Mbak bercanda tadi di telepon. Tapi saya senang Mbak ada di sini. Mbak tahu saya selalu berusaha supaya tidak terlalu euforia, lalu berharap banyak, tapi ini melebihi harapan saya. Makasih, Mbak.”

“Sama-sama. Aku juga senang. Jadi?”

“Kenapa mesti bertanya terus, Mbak? Mbak gugup lagi ya?”

“Hahaha, sialan!”

“Sini, biar Mbak nggak gugup.” Tiba-tiba saja wajah tirus itu sudah maju beberapa senti di mukanya, dan kecupan kecil menyentuh bibir Puan. Seakan tidak puas, kecupan kecil itu berubah menjadi ciuman lembut menyusuri bibirnya, menuntut, mengajuk, dan menukik memberikan kemesraan. Tanpa sadar Puan membalas dengan tuntutan yang sama, menghempaskan semua kegugupan, keraguan, dalam kelembutan pertemuan ragawi yang serba merangsang indera.

Dan dalam beberapa detik, ciuman itu berakhir.

“Gimana? Masih gugup?” Goda Kristo, kali ini dengan senyum nakal di bibirnya.

“Hahaha, damn. Nggak tahu ah!”

“So, you like it?”

“Like it? I love it. Can I have some more? Pretty, please?” Puan mengerdipkan mata dan memberi Kristo tatapan memohon.

This is so familiar, seperti pesan-pesan hangat yang mereka pertukarkan lewat SMS. Bedanya mereka tak perlu berkhayal dalam kode-kode semantik dan visual foto. Kristo nyata adanya, di depannya, dan Puan bisa melakukan apa saja pada lelaki kekasih hatinya itu.

Dan sisa hari itu setelah makan siang mereka habiskan dengan melakukan apa saja. Apa saja yang memenuhi tuntutan indera ragawi. Semua impian, seluruh khayalan, yang selama ini hanya tersurat dalam pesan kata dan foto lewat SMS, dalam kehausan yang teramat sangat, mereka lampiaskan. Menjelajahi senti demi senti tubuh telanjang yang menuntut kemesraan sentuhan. Merasai semua cara dan upaya menumbuhkan kepuasan di setiap titik sentuh. Bertukar posisi demi kepuasan satu sama lain hingga menukik dalam kenikmatan dan memuncak dalam kepuasan. Terengah mendaraskan nama satu sama lain. Bertukar birahi tak perduli apa pun yang terjadi di luar dunia sempit kamar penginapan.

“Mbak, kamu luar biasa. Just like what I expected.” Kristo tersengal di samping Puan, setelah episode permainan cinta mereka yang entah kesekian kali. Puan mengelus rambut ikal Kristo dengan pandangan penuh kepuasan. Butir-butir keringat mengaliri tubuh telanjangnya yang tak sempurna dengan gurat-gurat stretchmark, namun ia tahu tak diperdulikan oleh Kristo karena bukankah di setiap episode Kristo memuja tiap gurat dengan kecupan mesra dan hangat?

“Kamu juga.”

“Mbak puas?”

“Banget! Perlu ya dibahas?”

“Oh iya, perlu. Perlu dibahas. Dan perlu diulang.”

“Hahaha, stop. Kamu nggak lapar?” Tanpa mereka sadari, matahari telah tenggelam dan malam menginjak lewat jam sembilan.

“Saya lapar, lapar making love lagi sama Mbak.”

“Dasar!” Puan mencubit lengan Kristo dengan main-main, yang dibalas Kristo dengan pelukan erat dan ciuman mesra, kali ini di kening Puan.

“Saya sayang Mbak.” bisik Kristo.

“Really?”

“Iya.”

“Kamu tahu kan, Kris, aku sayang kamu juga, tapi…”

“Tapi, kita nggak mungkin. Kita LDR. Kita beda. Dan Mbak punya pacar kan? Iya, saya tahu, Mbak, saya tahu, tapi…”

“Maaf, Kris.”

“Let’s not talk about it, Mbak. Saya cuma mau Mbak. Saat ini. Sekarang ini.” Bibir Kristo mengecup bibir Puan, untuk kesekian kali, mesra pada awalnya, panas menuntut sesudahnya, sementara jemarinya menyelusuri punggung Puan, membuat Puan menggelinjang dalam nikmat.

Lalu mereka bercinta. Lagi.

Empat malam dan tiga hari yang penuh permainan cinta menggairahkan. Puan tak perduli. Pun Kristo. Karena satu-satunya yang terutama adalah kebahagiaan hati, dalam persatuan ragawi yang serba nikmat, serba memuaskan, serba memabukkan, serba menuntut pengulangan.

Siapa bilang surga itu ada di langit antah-berantah serba tak pasti?

Selanjutnya: Pertemuan ke-99 hingga ke-88 (Menormal)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s