Melupakan Kenangan

20161221_114350.jpg“Akan tiba masanya kau akan melupakanku…” Matanya yang selalu berbinar penuh energi itu tiba-tiba meredup sayu menatapku. Ditopangnya dagu yang serupa sarang lebah menggantung itu dengan tangan kiri, lalu matanya beralih ke luar jendela, meneliti satu demi satu awan putih di langit biru bulan September.

“Tidak usah omong yang aneh-aneh. Ayo, minum susu coklatmu. Tampaknya sudah hampir dingin.” Aku menanggapinya dengan nada datar, seolah tak menganggap apa yang barusan diucapkannya itu sesuatu yang penting dan serius.

“Ya, ya, nanti kuminum.” Ucapnya separuh melayang dalam pikirannya sendiri. Matanya tetap berada dalam dunia awan-awan putih di langit biru bulan September.

Aku jadi khawatir. Sudah 3 tahun aku mengenalnya dan kalau pengenalanku atas dirinya cukup mendalam, aku tentu menyadari bahwa ketika ia berubah menjadi pendiam dan melamun, dan tidak seberisik biasanya, tentu ada hal-hal yang mengganggu pikirannya.

“Menurutmu siapa yang akan lebih dulu lupa? Aku atau kamu? Aku bertaruh pasti kamu duluan yang melupakanku…” Tiba-tiba matanya yang bulat itu beralih memandangku. Di kedalamannya kulihat tanya.

“Aku tak tahu, Rei, tapi kamu tahu aku tak bisa menjanjikan apa pun padamu.”

“Iya. Itu sebabnya aku yakin sekali kamu akan duluan lupa.”

“Daripada memperdebatkan siapa yang duluan lupa, lebih baik kita menciptakan kenangan-kenangan, Rei. Selagi kita bisa.”

“Buat apa menciptakan kenangan kalau kemudian melupakannya?”

Hmm. Logikanya mengiris tajam seperti pisau yang dengan mudah membagi kue keju di hadapanku menjadi dua. Tentu saja kenangan hanya bisa dinikmati ketika ada ingatan. Ingatan hanya ada ketika tak lupa. Mengingat dan melupakan berada di dua ujung kutub yang berlawanan. Mustahil ada seiring sejalan.

“Mari kita nikmati saja kue keju ini, Rei. Ini kesukaanmu, bukan?”

“Kau mengalihkan topik…”

“Tidak. Aku hanya tak ingin memikirkan hal-hal yang aku tak pasti di masa depan. Aku hanya tak ingin menjanjikan hal-hal yang aku tak pasti di masa depan.”

“Jadi kita ini sedang apa? 3 tahun ini bermakna apa?”

“Kita menciptakan kenangan-kenangan yang pasti, yang bisa terasa, yang bisa kita ingat. Hingga saatnya kita memutuskan untuk lupa.”

“Tuh kan. Kau akan memutuskan untuk melupakanku.” Kali ini matanya membasah.

Aku menciumnya. Lama. Dalam. Merasakan air matanya membasahi pipiku. Sementara di luar, matahari menghilang di balik awan. Di sakuku, telepon genggamku memperdengarkan nada panggil yang khas. Calon istriku menunggu.

-fin-

Hello, Goodbye

​TRUTH OR LIE? You Decide…

=======

~Hello, Goodbye~

I was happily picking him at the airport from his annual three weeks leave in his hometown. 

We just started our romantic relationship a month ago, and we didn’t really have a lot of communication during his leave. This made me sad, but he said he was visiting many relatives. I, being in love, totally believed him.

Ah, there he was! Charming smile. The guy was mine, I thought.

“Hello, Honey, I miss you!” I ran and was about to hug him, when I caught his sad look and stopped mid-air. 

“Hi, Neny, sorry but this is our last meeting.” He said weakly, avoiding his glance toward me. 

“But, but, wh..why?” I stammered in disbelief. He was new and after many brokenhearted episodes of unrequited love , I just couldn’t believe what I just heard.  

“My family has arranged my marriage to a girl back home…”

I was never the choice.  I was never the candidate.  I was the part-time lover,  who was never qualified. 

Goodbye.

=======

Did I ever experience this?  Can you guess? :mrgreen:

Proyek Baru, Cerita Baru

Di tengah-tengah mempersiapkan bahan mengajar, kok tiba-tiba nongol inspirasi untuk membuat cerita panjang. Semoga cerita panjang ini nantinya akan terwujud hingga pada akhirnya. Biasanya saya nggak pernah kelar menulis sebuah cerita sih. Kali ini harus jadi 🙂 Sudikah Anda mengikuti prosesnya dan mengomentari setiap tahapannya?

Kisah kali ini saya beri tajuk “HTS TTM LDR PHP”; sebaris singkatan yang kalau Anda anak gaul kekinian pasti sudah tahu maknanya. Iya kan? Dan ceritanya memang merangkum semua singkatan itu sih. Kalau misalnya setelah cerita ini usai, Anda rasa judulnya tidak tepat, mari kita revisi saja 🙂

Silakan memulai bacaan Anda dengan mengklik tautan di bawah ini. Untuk bab yang sudah kelar, pasti akan ada tautan lanjutannya.

HTS, TTM, LDR, PHP

Selamat menikmati secara kritis!

@nenyish

Senja [draft]

“Senja ini terlalu kuning.” komentarmu memandangi semburat langit di barat dari lantai 5 hotel yang kutempati. Bertelanjang dada, dengan tato naga di punggung, tubuhmu menyiluet di muka jendela kaca. Tak terbaca ekspresi raut wajahmu olehku dari pembaringan.

“Tapi tetap bagus kok.” sanggahku sambil menarik selimut menutupi tubuhku yang berpeluh. Dinginnya AC menggigilkan, nyaris aku memohonmu untuk kembali ke pembaringan sebelum senja turun dan hari menggeliat menuju malam.

“Aku tak suka senja yang terlalu kuning. Suasana menjadi muram. Harusnya senja itu kemerahan. Cantik. Berani. Seperti kamu.” gumammu, tak melepaskan pandang sedetik pun dari matahari yang terbenam dalam cahaya keemasannya.

“Yang terakhir itu pasti gombal, kan?” ucapku sambil tersenyum. Harus kuakui kamu pandai mengolah kata.

“Ah, senja yang terlalu kuning. Sore yang terlalu muram.” desahmu.

“Lalu kenapa terus kau pandang? Kemarilah. Temani aku.” undangku dengan suara manis.

“Sampai kapan?”

“Kau tahu sampai kapan, Sam.”

“Sampai masa kunjunganmu di kota ini habis. Yang berarti cuma sehari, dua hari, lalu kau pergi, Neng.”

“Kamu bosan? Kamu malas ketemu aku?”

“Tentu tidak, Neng. Aku menanti setiap perjumpaan kita. Aku menunggu setiap pertemuan kita. Tapi aku tak tahan menghadapi perpisahan kita.”

“Sampai kau memutuskan, situasi tak kan pernah berubah, Sam. Kita akan tetap bertemu di suatu hotel, di suatu kafe, di suatu sudut kota entah di mana kita terdampar dalam perjalanan-perjalanan kita.”

Cinta Tak Kan Salah

Cinta takkan salah (Kahitna)

Begitu yang aku percayai. Kau tertawa? Kenapa? Kau tak percaya? Baiklah akan kuceritakan kepadamu kisahku dan silakan kau tanggapi. Mungkin cerita ini tak menarik buatmu. Aku tak menuntutmu untuk tertarik. Aku hanya ingin mengeluarkan isi dadaku saja. Maukah kau mendengarnya?

Masa Depan

Jadi begini rasanya sulitnya mengambil keputusan. Ragu-ragu. Dari setengah jam tadi sudah kepencet-pencet tuts ponselku mengakses daftar kontak. Dan namanya pun sebenarnya berada di puncak daftar. Tinggal menekan dan segera tersambunglah aku padanya. Atau kalau mau tambah repot, aku bisa saja memencet nomornya yang aku hapal di luar kepala sejak lima tahun yang lalu.

Tapi aku memang tipe orang yang ragu-ragu untuk bertindak. Harus memikirkan dalam-dalam sendiri. Dari dulu begitu. Dan itu dia tahu persis. Seperti dia tahu persis kepribadianku sampai sedetil-detilnya.

Masa Kini

Pembicaraan SMS.

Dia: Lagi nonton 500 days of summer. pantes kamu suka.
Aku: Iya, ma’am. Sinematografinya bagus. Aktingnya meyakinkan.
Dia: ah, bukan itu sebabnya. You’re a mellow fellow. Of course u like it.
Aku: me? mellow? really?
Dia: Def. mellow. pasti sampai sekarang kamu belum bisa lupain pacarmu yg dulu 😛

Touche!

Memang belum bisa lupa. Macam aku ini terjebak di labirin masa lalu yang bolak-baliknya selalu kembali ke square one. Dan square one itu tidak enak. Semua hal bisa menjadi pemicu ingatan pada si sial-pembuat-galau-tapi-nggak-mau-pergi-dari-hati-dan-pikiran. Dan si sial itu adalah Via. Yang akun facebooknya masih aku sambangi tiap hari. Yang kelas-kelasnya sedapat mungkin aku ikuti. Yang fotonya masih terpajang di layar ponselku. Yang nomornya masih terdaftar sebagai “hunny bunny” di ponselku. Yang walau pun sudah berendeng-rendeng dengan si kadal-muka-gembil-tapi-dia-cinta-mati di seantero kampus, tapi celakanya aku masih tahan menerawangi asyik masyuk mereka di plaza gedung F. Arrrghhh.

SMS baru masuk.

Dia: Kok nggak dibales? Teringat mantan yaaaaa…:D

Tahu aja dia. Benar-benar keturunan cenayang. Baru kali ini aku mendapati seseorang yang bisa menebak sifatku dengan tingkat akurasi yang tepat sasaran. Selain mamiku tentu saja. Kalau mami sih pasti mengerti luar dalam sifat anak-anaknya, wong sembilan bulan sepuluh hari plus dua puluh satu tahun lamanya mengurusi aku. Jangan-jangan dia semacam ‘mami’ baru buatku?

Aku: Enggak kok, Bu. Ini baru di jalan.

Sent.

Aduh, asal banget alasanku. Tapi apa boleh buat. Aku paling segan bicara yang pribadi-pribadi begini. Pribadi! Artinya hanya untuk konsumsiku sendiri. Teman-teman dekat saja belum tentu tahu soal beginian. Ya mereka tahu soal Via, tapi soal bagaimana aku berdarah-darah begini dan tenggelam dalam masa lalu itu urusan dalam negeriku. Kalau teman-teman dekat saja tidak tahu, masak dia harus tahu. Tapi kemampuannya menebak sifatku yang ala cenayang itu cukup mengesankanku.

Masa Depan

Aku menghirup napas dalam-dalam. Sudah cukup setengah jam ragu-ragu. Sudah cukup pula lima batang rokok putih kuhirup, walaupun tak sampai tuntas. It’s now or never. Lima tahun sudah cukup panjang untuk beragu-ragu.

Kupencet namanya dalam daftar kontak.

Tersambung. Berdering. Tidak ada lagi jalan kembali. This is it.

Dia: Halo.

Hm, aku hapal nadanya yang ini. Nada dingin, impersonal. Nada yang dia gunakan kalau nomor pemanggil tidak dikenalinya. Tentu saja dia tak mengenali nomor ponselku. Waktu lima tahun tentu tidak pendek dan banyak yang telah terjadi selama itu sehingga nomorku pun pasti tak disimpannya. Lagian siapa sih aku ini sehingga membuat dia harus menghabiskah jatah kontak di ponselnya?

Aku: Halo.
Dia: Eh, Abang! Apa kabar?

Hm, dia masih ingat suaraku. Dan panggilan khususnya kepadaku. Abang. Nama panggilan yang diberikannya sejak pertama kami bertemu dulu.

Masa Lalu

Semester baru saja mulai hari ini, tapi aku sudah terlibat masalah. Baru dua mata kuliah yang kudapat dari jatah delapan mata kuliah yang harusnya aku ikuti. Sistem registrasi mata kuliah yang menyebalkan dan tidak efisien serta jumlah dosen yang tidak banyak membuat banyak mahasiswa bernasib sama sepertiku: belum dapat kelas. Tampaknya yang berlaku setiap registrasi adalah homo homini lupus alias orang-orang saling menerkam macam serigala saja. Siapa kalah cepat, sudah pasti tidak dapat kelas.

Ada SMS masuk. Dari Dea, ketua Senat Mahasiswa (SEMA) fakultasku. Isinya mengabarkan bahwa ada kelas yang baru dibuka untuk mata kuliah Academic Writing. Diajar oleh Ibu Rena. Dia mengajakku untuk datang ke pertemuan pertama pagi ini jam 9.

Hmm, Ibu Rena. Aku belum pernah mengambil mata kuliah apa pun yang diajarnya. Tapi dari berita-berita di luaran, dosen yang satu ini ketat dan berat. Sudah beberapa teman yang curhat kepadaku memberitakan bahwa mereka mesti bekerja ekstra keras untuk bisa mengikuti tugas-tugasnya yang ‘ajaib-ajaib’. Bahkan Via, mantanku, pernah menangis-nangis kepadaku menceritakan bahwa dia hanya mendapatkan nilai B sedangkan rekan satu kelompoknya yang lain mendapatkan nilai A. Padahal menurut Via, dia sudah bekerja mati-matian menyelesaikan tugas-tugasnya.

Tapi aku tidak punya pilihan lain. Ini bukan saatnya pilih-pilih. Aku harus mendapat kelas. Titik. Kalau tidak, uang kuliah untuk delapan mata kuliah akan sia-sia sebagian kalau aku cuma dapat dua kelas. Aku melangkah ke laboratorium komputer di gedung perpustakaan di mana kelas akan diselenggarakan.

Di depan lab, kujumpai para aktifis Lembaga Kemahasiswaan (LK). Mereka semua masih menunggu Ibu Rena datang. Tampaknya mereka semua bernasib sama denganku, belum mendapat mata kuliah yang diinginkan.

“Eh, Ucok, belum dapat kelas juga ya?” sapa Dea, si ketua SEMA.
“Iya nih, baru dua. Terpaksa ikut kelas ini.”
“Terpaksa? Kok terpaksa?”
“Iyalah. Dengar-dengar Ibu Rena orangnya ketat kan?”
“Ah, kamu salah info, Cok. Mbak Rena itu orangnya enak banget dan pengertian banget.” bantah Dea. Hm, Mbak Rena? Mbak? Akrab sekali Dea menyebut dosen satu itu. Macam teman saja.

Pikiranku terpotong dengan kehadiran Ibu Rena. Seperti biasa, lubang telinganya ditutup headphone dan kepalanya bergoyang-goyang. Rupanya dia sedang mendengarkan musik lewat headphone. Tampaknya dia tak hirau dengan sekelilingnya. Sejak pertama masuk kuliah, aku lihat memang dosen satu ini agak ‘nyeleneh’. Salah satunya ya soal headphone itu. Dan salah lainnya adalah soal pakaian. Belum pernah aku melihat dia berpakaian formal. Seperti kali ini, dia cuma mengenakan kaos polo hijau tua, celana jeans yang sudah pudar, dan sepatu kets. Cuma sekali aku melihat dia mengenakan batik resmi dosen dan celana kain ketika kami semua dilantik menjadi fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan dan dia menjadi koordinator bidang kemahasiswaan dua minggu yang lalu. Buat orang-orang yang belum kenal siapa dia, pasti mengira dia adalah seorang mahasiswa dan bukan dosen. Tapi memang wajahnya awet muda, dengan ekspresi wajah yang mencerminkan usia sekitar 30-an tahun. Dan masih membujang pula. Sehingga masih pantas bergaya ala mahasiswa.

Dia melaju begitu saja melewati kami, dengan gaya berjalannya yang memang buat kami luar biasa cepat. Lalu membuka pintu lab dan menuju ke meja dosen. Kami buru-buru masuk dan mencari tempat duduk yang kosong. Sementara itu, Ibu Rena langsung mengeluarkan laptop dari tas ransel hitamnya. Sejenak kulihat dengan cueknya dia berjongkok di lantai menyambungkan kabel power, LCD, dan jaringan ke panel listrik di bawah meja. Alamak, memang cuek sekali dosen ini!

Begitu laptop menyala, terdengarlah alunan lagu dari pengeras suara laptop. Hmm, aku kenal lagu ini. Ini Stupify milik grup band Disturbed. Wah, gila, musik rock yang dipilihnya. Dan di awal kuliah. Yang bener aja! Rupanya untuk membunuh waktu sementara dia menyiapkan bahan-bahan mata kuliahnya, dia memperdengarkan lagu untuk mahasiswa. OK, naik satu poin nilai dia di mataku.

“Good morning, Everyone.” sapanya memulai kelas.

“Good morning, Ma’am.” Beberapa menjawab dengan nada asal-asalan.

“OK, ada dua alasan mungkin mengapa Anda memilih kelas ini. Satu, Anda tidak mendapat kelas dengan dosen lain sehingga Anda terpaksa masuk kelas saya.” Mendengar ini beberapa teman tertawa kecil, termasuk aku. Tahu saja dia!

“Atau alasan yang kedua, Anda terlalu cinta pada saya.” Kali ini seluruh kelas tertawa. Wah, selera humornya boleh juga. Naik lagi satu poin nilai dia di mataku.

“Tapi yang lebih penting adalah, dalam kelas saya, saya akan mengajari Anda tidak hanya bagaimana menulis untuk keperluan akademis. Saya akan mengajari Anda tentang kehidupan di luar sana. Kalau Anda sudah dengar di luaran kalau saya ini ketat dengan deadline, saya sengaja membuatnya begitu karena di luar sana ketika Anda telat datang ke bandara, Anda akan ketinggalan pesawat. Tidak perduli bahwa Anda membayar harga tiket bisnis yang termahal sekali pun. Kecuali kalau Anda adalah Barrack Obama, tentu saja.” ketawa kecil terdengar lagi di sana sini.

“Kalau tugas-tugas saya banyak, itu karena saya tidak percaya tes pilihan ganda. Dalam hidup Anda akan diserahi tugas dan tidak akan disuruh memilih jawaban pilihan ganda. You will be given a task, and it’s up to you how you’re going to do it. Terserah bagaimana caranya. Dan kalau Anda bertanya pada saya mana jawaban yang tepat, saya tidak akan memberikan jawaban saya, karena ada banyak variasi dan solusi atas setiap tugas. Tidak ada satu jawaban pun yang benar mutlak, karena dalam hidup ada banyak variasi dan solusi atas satu permasalahan. Semua jawaban bisa benar, apabila itu menyelesaikan masalah. Jadi walaupun jawaban Anda mungkin tidak sama dengan jawaban saya, saya tidak akan menilai jawaban Anda jelek. Kalau jawaban Anda bisa menjawab tugas, saya akan tetap menilai jawaban Anda itu berdasarkan kualitas dari proses Anda mendapatkan jawaban Anda itu. ” Kelas menjadi hening, menyimak ‘petuah’nya. Aku seperti mendapat pencerahan akan hidup di luar sana. Hidup di luar sana memang penuh variasi dan serba tak seragam, dan terkadang solusi suatu permasalahan bisa bermacam-macam.

“OK, let’s talk about the syllabus of this class. So, please open the document in your computer…” dan kelas pun dilanjutkan dan kami tenggelam dalam pembahasan silabus.

Usai kelas, beberapa fungsionaris LK menemuinya. Baru kali itu aku melihat seorang dosen yang tampak begitu santai dan tidak canggung berada di sekitar mahasiswanya. Dia memperlakukan teman-teman fungsionaris layaknya teman sebaya, begitu akrab. Aku seperti rama-rama tertarik pada sinar lampu, tak sadar melangkahkan kakiku ke kelompok mereka.

“Eh, siapa namanya? Anak LK juga?”Sapanya ketika aku mendekat.
“Ini anak hilang di LK, Mbak, soalnya jarang ngumpul. Maunya menyendiri melulu karena patah hati.” Belum-belum Dea sudah menyerocos mengomentariku. Sialan betul, aku belum-belum sudah kena skak mat di depan dia.
“Oh, gitu. Siapa namanya?”
“Ucok, Bu.”
“Oh, dari Medan ya? Kok namanya Batak sekali?”
“Tidak, Bu, dari sini saja. Tapi memang orang tua dari sana.”
“Ah, kamu ini cocoknya dipanggil Abang Ucok saja, soalnya pembawaanmu kayak abang-abang gitu.”
“Bukannya karena kayak abang becak, Mbak?” Timpal Dea menggodaku, ditimpa tawa teman-teman.
“Bukan dong, masak cakep-cakep dibilang kayak abang becak sih, Dea. Ini lho, Ucok ini pembawaannya kalem dan kakak sekali. Terus melankolis juga ya kayaknya. Kamu tadi bilang dia sedang patah hati ya, Dea?”
“Iya, Mbak, dia ini udah diputusin dari kapan hari tapi patah hatinya nggak sembuh-sembuh sampai sekarang.”
“Ya kalau lihat si Abang ini memang dia tipe yang sulit melupakan kalau sudah cinta. Ya nggak, Abang?”

Dan sejak saat itu, buatnya aku selalu si Abang…

Masa Depan

Di depan rumahnya. Masih rumah yang sama tempat dulu aku dan teman-teman LK sering bertandang. Rumah kuno model tahun 70-an dengan jendela besar-besar dan tembok tinggi. Rumah bercat hijau dengan sebatang pohon rambutan besar menaungi halamannya. Di depan ada teras dengan kursi-kursi kayu model Jepara dikelilingi pot-pot tanaman suplir. Di teras itu kami semua sering mengobrol dengannya tentang segala hal: kuliah, film, buku, LK, dan tentu saja curhat teman-teman tentang pacar-memacar.

Berapa tahun yang lalu aku terakhir menginjakkan kakiku di rumah ini? Aku tak pernah lagi berkunjung setelah dia harus pergi ke Amerika untuk studi S3 lima tahun yang lalu. Aku waktu itu masih kuliah tahun ketiga. Aku ingat kami mengadakan pesta perpisahan untuknya, dua minggu sebelum dia berangkat. Kecil-kecilan saja, cuma teman-teman fungsionaris, ditemani satu krat teh botol dan gorengan serba sederhana. Kami menghabiskan lima jam, bicara segala hal, berkelakar sana sini, dan berjanji untuk berkabar. Namun janji itu tak terlalu ditepati. Kami semua sibuk dengan urusan masing-masing. Apalagi setelah kami semua lulus, kami seperti daun yang tertiup angin ke segala arah, melanjutkan hidup kami masing-masing. Dan lupalah kami untuk berkabar, kecuali sesekali meninggalkan komentar di dinding facebook satu sama lain.

Yang mungkin teman-teman LK tidak tahu adalah aku kembali lagi ke rumah ini dua hari setelah acara pesta perpisahan itu. Entah apa yang menggerakkanku untuk melajukan motorku di sore itu ke rumahnya. Mungkin saat itu tanpa sadar aku sudah terpikat olehnya.

Masa Kini

“Eh, Abang. Tumben sore-sore. Sendiri?”
“Iya, sendiri, Bu. Maaf aku mengganggu.”
“Oh, enggak kok. Duduk sini.”

Dan beberapa menit kemudian aku terdiam. Tidak tahu mau omong apa, karena aku sendiri tak tahu kenapa motorku bisa begitu saja melaju kemari. Lalu dia mulai bicara, dan aku menjawab, menimpali, tertawa pada leluconnya, terinspirasi oleh idealismenya. Dia bicara soal musik yang digemarinya, soal puisi-puisi yang ditulisnya, soal buku-buku yang dibacanya, soal proyeknya mengajar anak-anak desa, soal politik negeri ini, soal mimpinya membuat perpustakaan keliling. Aku bicara soal film yang kusukai, soal kuliahku yang mentok entah kemana, soal proyek penulisan naskah dramaku yang macet, tentang perjalanan-perjalanan yang kulakukan di masa lalu ke berbagai kota dengan mengendarai motor. Dan tentang keluargaku, ayahku si perantau yang tak segan-segan merotan anak-anaknya yang nakal, ibuku yang lembut hati dan selalu khawatir kalau aku naik gunung atau pulang larut, tentang adik-adikku yang sibuk dengan dunia mereka sendiri. Dan tentang kisahku dengan Via yang hingga kini aku masih tetap terluka. Soal film, kuliah, proyek menulis naskah, dan perjalanan mungkin adalah hal-hal yang aku anggap wajar untuk kuceritakan, terlebih untuk mengatasi kekakuan pembicaraan dengannya. Tapi entah kenapa, aku ringan saja berbagi tentang keluargaku. Dan rasanya nyaman saja bicara dengannya soal Via.

Enam jam berlalu secepat angin. Hingga tengah malam.

Masa Depan

Aku menginginkan dia. Tak pernah ada yang lain sejak pertemuan terakhir kami. Dan malam ini aku akan menyatakan bahwa aku mencintai dia. Bukan sebagai Ibu Rena, tetapi sebagai Rena saja. Perempuan yang kukagumi. Perempuan yang mengertiku. Perempuanku.

Malam ini akan kuakhiri segala keragu-raguan yang kujalani selama lima tahun belakangan. Aku bahkan tak perduli kalau perasaanku tak berbalas. Itu urusan belakangan. Mungkin jawaban dia tak akan sama dengan jawabanku, tapi itulah hidup, sebagaimana dia katakan di kelas pertamanya denganku.

Aku tahu kau pasti berpikir bahwa aku telah gila. Ada jarak umur sepuluh tahun di antara kami. Belum lagi kau pasti mendebatku bahwa tak seharusnya seorang bekas mahasiswa mencintai dosennya. Tapi aku tak perduli.

Cinta takkan salah (Kahitna)

[Draft] Novel: any thoughts?

Saya terinspirasi oleh kisah percintaan seorang teman dan saking terinspirasinya saya sampai menghabiskan dua jam cuman buat menuliskannya. Tapi ya itu. Belum selesai. Masih awal banget. Cuma saya butuh bantuan Anda untuk mengkritisinya. Mau nggak?

=========================================

NO TITLE DECIDED YET

Somewhere in Amazon jungle, Desember 1997

Hujan baru saja berhenti pagi ini. Aku mengetatkan jaket. Udara hujan selalu membuat hutan ini jadi sedikit dingin, cukup untuk menggigilkan badan. Pagi masih dini, matahari belum mulai muncul. Tapi aku sudah memutuskan semalam untuk bangun pagi-pagi. Tugasku pagi ini cukup menumpuk. Pertama harus menyelesaikan laporan tugas lapangan kemarin. Belum-belum aku sudah merasa enggan memulai laporan itu. Maklum saja, catatanku kemarin benar-benar kacau balau. Teman-teman satu kelompokku benar-benar kelewat santai dan kebanyakan bercanda. Raul dari Uruguay, orangnya benar-benar pelawak. Tampaknya kelas lapangan ini dianggapnya sebagai ajang untuk mencari penggemar akan lawakan-lawakannya, yang kuakui cukup mengocok perut. Maria, si seksi dari Argentina, menurutku cukup tekun. Walaupun tampaknya perhatiannya lebih terpaku pada Raul, yang selain pelawak memang cukup digemari di kalangan teman-teman perempuan. Tomas yang dari Brazil malah sibuk mengejar-ngejar Daniella, si pendiam dari Mexico. Tapi memang, Daniella itu cukup cute. Dan pendiamnya itu sempat membuatku penasaran. Gila! Tampaknya semua orang di kelas lapangan ekologi ini lebih sibuk mencari pasangan daripada mendengarkan profesor Perales berceloteh tentang pohon ini atau spesies itu. Apalagi untuk mencatat dan mencari data. Boro-boro!
Aku? Oh, belum kenal ya? Namaku Juan. Asal? Kostarika, negeri penuh damai, tanpa tentara dan terkenal indah hutan-hutannya. Tujuanku ikut kelas lapangan ekologi ini tentunya paling mulia: menambah pengetahuan tentang hutan tropis. Hahahaha, mulia bukan? Tapi sampingannya ya itu tadi, siapa tahu, kecantol cewek dari negara lain. Program kuliah lapangan ini memang program multi-nasional. Selama 5 minggu di hutan tropis bersama orang-orang bermacam negara memang menarik. Tidak heran, daftar tunggu kelas ini selalu panjang dan kompetitif. Tapi kemampuanku cukuplah untuk bisa terseleksi masuk. Kan aku termasuk mahasiswa master paling jagoan di angkatanku. Haha, sombong sekali aku ini.
Aku menggeliat, menepiskan malas dari tulang-tulangku. Tampaknya aku perlu mandi air dingin untuk menghilangkan kantuk, sekalian mencukur kumis dan jenggot yang sudah mulai mengganggu. Kuayunkan kakiku dari pondok ke kamar mandi komunal, sambil tak lupa mengambil handuk dari gantungan handuk di depan pondok. Mumpung masih pagi dan biasanya antrian kamar mandi tak terlalu panjang.
Kukira aku yang terpagi, tapi ternyata sudah ada yang duluan berada di kamar mandi itu. Daniella. Heran, cewek satu ini selalu tampil manis, meskipun dia pasti belum mandi. Dan dengan piyama bunga-bunga kecil warna pink, dia tampak semakin lembut. Kuakui, aku cukup tertarik padanya.
”Hola, Daniella. Mau mandi?” Aduh, pertanyaan bodoh, tentu saja dia mau mandi! Kan jelas dia berada di depan kamar mandi dan ada handuk tergantung di bahunya.
Dia cuma tersenyum tipis dan mengangguk. Setelah satu minggu di program ini, aku memang mendapati bahwa cewek ini pendiam. Tapi mungkin di situ daya tariknya. Manis, lembut dan misterius. Membuat aku semakin penasaran.
“Well, aku duluan ya. Mau buru-buru menyelesaikan laporan. Kamu sudah mulai menulis laporan?

“Belum. Baru mau mulai.” Diurainya rambut coklatnya. Hmm, seksi juga, pikirku.
“Nanti bareng ya nulisnya. Catatanku agak kacau.” Ajakku ringan. Siapa tahu dia mau.
“OK.” Jawabnya singkat sambil memasuki kamar mandi yang paling ujung kiri, sementara aku memilih kamar mandi yang paling ujung kanan.
Selama mandi pikiranku sempat melayang-layang pada gemericik air yang terdengar lamat-lamat di kamar mandi ujung. Hmmm, pikiran kotor! Tapi aku tak bisa menepisnya. Daniella, si manis lembut pendiam dan air mandi. Hmm….
Sepuluh menit kemudian, aku sudah usai mandi. Badan segar, pikiran segar bercampur nakal (ha!). Kukeluarkan pisau cukur dan cairan aftershave untuk bercukur. Di depan kamar mandi ada beberapa wastafel dan kaca. Agak buru-buru aku bercukur, takut keburu terlambat dan tidak kebagian komputer di pondok kerja. Maklum, Cuma ada 5 komputer untuk 20 mahasiswa. Kalau tidak buru-buru, pasti aku tidak kebagian.
Sialan! Saking terburu-burunya pisau cukurku tak sengaja menggores dagu. Sakitnya lumayan perih. Mana tidak ada tissue pula! Di tengah hutan sih di tengah hutan, tapi mustinya tisu harus tersedia dong! Kan sudah bayar mahal. Serampangan kuhapus luka berdarah dengan handukku.
“Eh, jangan, nanti infeksi. Sini aku bersihkan.” Tanpa terdengar, Daniella sudah berdiri di sisiku dengan tisu basah di tangannya. Dengan telaten, dihapusnya darah di daguku. Dari dompet kosmetiknya diambilnya cairan antiseptik. Aku mendesis menahan sakit ketika perihnya cairan antiseptik itu menyentuh lukaku. Dia Cuma tersenyum simpul menanggapi desisku. Alamak, manis sekali dia. Dan bibirnya ternyata sungguh merah, sangat kontras dengan kulit putihnya. Menggoda sekali untuk dikecup! Dan tanpa sadar, aku mencium bibirnya…
Reaksi pertamanya yang kurasa adalah ketegangan. Namun setelah beberapa detik, bibirnya terasa pasrah. Dan aku semakin terganja oleh kepasrahannya. Sampai beberapa menit, dunia terasa berhenti berputar. Yang ada hanya aku dan dia.
“Ups, sori, mengganggu.” Refleks, aku melepaskan pelukanku dan Daniella mundur tersipu-sipu. Ternyata Maria yang hendak mandi dan menemukan kami tengah berasyik-masyuk.
“Eh, uh, em, aku duluan ya.” Buru-buru Daniella mengemasi kotak kosmetiknya dan melarikan diri. Sementara aku masih terbengong-bengong tak beres mengikuti kepergiannya dengan mataku. Maria cuma tersenyum-senyum menyaksikan tingkah kami yang jengah.
“Kirain kamu itu dingin, Juan. Ternyata lebih heboh dari yang lain. Aku mandi dulu ya.” Maria memasuki kamar mandi sambil mengedipkan matanya ke arahku. Aku cuma bisa termangu.
Dan acara menulis laporan menjadi lebih asyik rasanya. Daniella ternyata sungguh sangat membantu. Catatannya rapi dan aku bisa ikutan menggunakan catatannya untuk menyusun laporan. Belum lagi perhatiannya selama membuat laporan. Sesekali ia menanyakan apakah laporannya sudah tepat dan meminta pendapatku akan ini itu. Jadi merasa lelaki pintar sedunia dan aku akui itu cukup memompa ego kelelakianku. Setelah dua jam membuat laporan, tampaknya aku sudah menetapkan pilihan bahwa pada cewek manis satu ini.
Seharian itu kami habiskan untuk membuat laporan, berjalan-jalan di area seputar pondok, berbincang-bincang dan saling mengenal. Dia tak banyak bicara, hanya sesekali tersenyum mendengar ceritaku. Ada beberapa bagian dari dirinya yang tampak misterius dan itu malah semakin memancingku untuk mengenalnya lebih lanjut.
“Kamu penyendiri ya?” tanyaku ketika kami duduk di bawah pohon pakis, melepas lelah setelah berjalan-jalan sore.
“Memang kenapa? Nggak boleh?”
“Bukan gitu, dari semua cewek di kelas ini, kamu yang paling jarang ngobrol-ngobrol.”
“Enggak biasa.” Jawabnya singkat sambil menggigit rumput. Duilah, seksi juga kalau bibirnya yang menggigit rumput itu gantian kugigit. Hmmm….
“Kenapa nggak biasa? Minder?” godaku padanya. Tapi malah bola matanya yang bulat ini membasah.
“Eh, Daniella, sori ya. Kamu marah?” ucapku buru-buru. Wah, gawat kalau cewek ini nangis. Aku nggak biasa dan nggak bisa menanggapi tangisan cewek.
“nggak kok, aku nggak marah. Emang aku minder kok. Abis yang lain cantik-cantik, kaya, sementara aku…”
“Kamu juga cantik! Siapa bilang kamu nggak cantik. Menurutku kamu cantik. Kaya? Aku juga nggak kaya, kekayaan itu nggak penting. Di hutan belantara gini, status kaya nggak penting.” Harus kuakui reaksiku ini separuh merayu, separuh supaya dia nggak jadi menangis.
“Aku nggak cantik! Siapa yang mau sama cewek nggak cantik, nggak berharga kayak aku.” Pekiknya setengah histeris. Wah, gawat, gawat, gawat! Aku harus bagaimana?
“Daniella, kamu itu cantik dan berharga, kayak bunga azalea ini.” Aku meraih bunga azalea dan mencabutnya. Lalu memasangkan bunga itu di telinganya. “Dan aku suka kamu.”
Sejenak ia terdiam. Titik-titik air mata mulai mengaliri matanya, namun aku mendapati senyum di dalam bening bola matanya.
“Makasih ya, Juan. Kamu baik banget. Tapi soal aku nggak berharga, itu memang benar…”
“Kenapa kamu harus merasa nggak berharga. Aku kan sudah bilang tadi, kamu berharga.”
Dan mengalirlah ceritanya, di sela-sela isak tangis. Soal keluarganya yang terlalu miskin hingga tega menjual kegadisannya kepada pamannya yang kaya hanya supaya mereka bisa makan dan menyekolahkan. Tentang perjuangannya untuk tetap sekolah dengan membantu-bantu pamannya di toko kelontongnya. Dan betapa pamannya setiap malam memaksakan nafsunya pada sang keponakan yang tak berdaya.
Dan aku? Aku cuma bisa memeluknya dan mendengarkan ceritanya. Berusaha meyakinkannya bahwa dia cantik di mataku dan aku menyukainya. Tak kusangka Daniella yang begitu pendiam dan manis lembut ini menyimpan cerita yang kelam tentang hidupnya.
Aku jatuh suka padanya. Kuakui itu. Alasannya? Mungkin karena kasihan padanya. Atau mungkin juga karena dia begitu lembut dan rentan, seperti bunga azalea. Dan kuakui, kelembutan dan kerentanannya itu membuatku ingin merengkuhnya dalam pelukanku, melindunginya seperti seorang lelaki jantan. Jantan? Ya, aku merasa dibutuhkan dan jantan bersamanya.
Dan malam itu kami habiskan bersama, di dalam pondokku…

 
Kantor HRD PT. Indomining, somewhere in the jungle of Kalimantan, Desember 1997
Nesia melihat jam di tangannya. Masih jam sembilan pagi kurang lima menit. Pagi ini, ia dijadwalkan memberi pelatihan bagi para guru bahasa Inggris bagi para pekerja tambang. Profesinya sebagai dosen membuatnya ditugaskan oleh universitasnya untuk memberikan pelatihan dalam proyek kerjasama antara kampusnya dengan perusahaan pertambangan terbesar di Kalimantan ini.
Nesia antusias memberikan pelatihan ini. Sebagai dosen yunior di kampusnya, pengalaman ini bisa menjadi nilai tambah bagi kemampuannya. Siapa tahu ada tawaran beasiswa dari perusahaan ini untuk kuliah lagi. Dengar-dengar perusahaan ini cukup royal memberikan beasiswa dan beberapa rekan dosen sudah dikirim ke luar negeri untuk studi lanjut dengan pembiayaan dari perusahaan ini. Kalaupun tidak dapat dari perusahaan ini, paling tidak pengalaman memberi pelatihan bisa dipakainya melamar beasiswa lain. Belum lagi kesempatan jalan-jalan ke luar pulau. Sudah lama Nesia bermimpi untuk bisa mengunjungi pulau-pulau lain selain pulau Jawa.
Sekali lagi dipandangnya seluruh penjuru ruang pelatihan. LCD sudah siap, boardmarker sudah tersedia, whiteboard sudah dihapus bersih dan kursi-kursi sudah ditata separuh melingkar sesuai permintaannya. Dia mengecek sekali lagi laptop yang akan digunakannya untuk menunjukkan beberapa benda dari CD Ensiklopedia Britannica, dan didapatinya layar yang kosong. Tanda indikator power juga mati, padahal dia sudah menancapkan kabel power di colokan. Gawat! Tadi perasaan dia sudah memastikan bahwa laptop bisa bekerja dengan sempurna. Ada masalah apa lagi?
Dengan panik Nesia bergegas ke kantor administrasi di sebelah ruang pelatihan. Didapatinya Mbak Asri, sekretaris HRD, sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Dari nadanya, terdengar penting. Dengan tak sabar, Nesia menunggu. Bolak-balik dilihatnya jam di tangannya. Waduh, sudah jam sembilan tepat. Beberapa orang, yang tampaknya peserta pelatihan, berduyun-duyun memasuki ruang pelatihan. Namun baru lima menit kemudian, Mbak Asri berhenti menelepon.
“Ada apa, Bu Nesia?” Tanya Mbak Asri, usai meletakkan telepon.
“Mbak, laptopnya nggak mau nyala. Padahal saya sudah akan mulai. Gimana ya, Mbak?”
“Wah, saya musti menelpon bagian MIS supaya mengirim tehnisi. Padahal saya kemarin sudah cek lho. Sebentar saya telpon dulu.” Mbak Asri memijit beberapa nomor di teleponnya lalu berbicara dengan seseorang di seberang telpon.
“OK, Bu Nesia. Mereka sedang mengirim orang kemari. Tapi mungkin baru sekitar 10 menit lagi. Bisa ditunggu?”
“Ehm, bisa sih. Mungkin saya mulai dulu saja kelasnya. Makasih ya, Mbak.” Mbak Asri membalas dengan senyum lalu mulai mengerjakan tugas-tugasnya. Nesia buru-buru kembali ke ruang pelatihan. Aduh, nggak seru kalau hari pertama kelas sudah ada masalah begini. Bikin tambah gugup saja.
Beberapa kepala menengok ke arahnya ketika Nesia memasuki ruang pelatihan. Nesia sedikit gugup, tapi kemudian menguatkan dirinya. Gugup hari pertama mengajar itu biasa. Dengan tersenyum, Nesia menyapa kelas dan mulai mengabsen. Dari enam belas orang peserta yang terdaftar, ada satu orang yang belum hadir. Dentra Wirawan, hmm, nama yang cukup unik. Kira-kira seperti apa orangnya. Tapi Nesia cukup sebal karena sampai pukul sembilan lebih lima belas si Dentra Wirawan ini belum hadir juga. Padahal pelatihan ini diwajibkan oleh perusahaan dan Mbak Asri sudah memastikan bahwa semua peserta akan hadir. Lagipula ada beberapa kegiatan yang mengharuskan diskusi berpasangan. Kalau cuma lima belas orang, bisa berantakan rencana kegiatan kelas. Belum lagi si tehnisi laptop belum juga menunjukkan batang hidungnya. Aduh, ada-ada saja!
Tok, tok, tok. Pintu kelas diketuk dari luar. Akhirnya, ujar Nesia dalam hati, datang juga si Dentra Wirawan. Ketika pintu terbuka, Nesia mendapati seorang pria dalam setelan hem garis-garis biru dan celana jeans yang rapi.
“Pak Dentra Wirawan? Anda sudah terlambat. Silakan duduk dan berpasangan dengan Ibu Ivo. Kita sedang mengadakan diskusi berpasangan. Instruksi dan topik ada di map di meja.”
“Maaf, Bu, saya terlambat, tapi…”
“I’m sorry, Pak Dentra. We’re running out of time and there are many activities to do. Please take a seat and start the discussion.” ( Maaf, Pak Dentra. Kita sudah terlambat dan masih banyak kegiatan yang harus kita selesaikan. Silakan duduk dan mulai diskusinya) Tegas Nesia memberi instruksi dalam bahasa Inggris.
Sejenak pria itu tampak kebingungan, namun akhirnya ia tersenyum dan mengambil tempat duduk disebelah Ibu Ivo. Diambilnya map di meja, membaca instruksi sejenak, lalu mulai berdiskusi dengan Ibu Ivo. Ibu Ivo terlihat bingung, tapi kemudian tanpa banyak basa-basi menanggapi pria itu.
Semua peserta asyik berdiskusi sementara Nesia sekali-kali berjalan dari kelompok ke kelompok. Hmmm, beberapa mempunyai kemampuan analisis yang cukup bagus. Terutama Dentra. Pria itu tampak paling muda dari peserta lain, namun bahasa Inggrisnya tanpa cela. Seringkali Nesia mendapati Ibu Ivo Cuma mengiyakan ide-ide Dentra. Dan pria itu menarik juga. Wajahnya sih tidak seganteng artis sinetron, namun gaya bicara dan gerak-geriknya menarik dan mengesankan cerdas. Nesia meneruskan diskusi itu dengan berbagai kegiatan lainnya dan pria itu tampak paling menonjol di kelas. Mau tak mau, Nesia jadi semakin kesengsem.
Tapi, mana tehnisi yang dikirim MIS untuk memperbaiki laptop? Sudah hampir dua jam berlalu, dan Nesia mulai resah karena setelah ini dia harus menunjukkan beberapa bagian dari ensiklopedia. Diputuskannya untuk menanyakan hal ini pada Mbak Asri, sementara kelas ditinggalkannya untuk meneruskan diskusi.
“Mbak Asri, tehnisinya sudah datang atau belum? Sebentar lagi saya harus memakai laptop, tapi kok belum ada yang datang?” Tanya Nesia tanpa ba-bi-bu.
“Lho, tadi sudah datang kok dan saya suruh langsung ke ruang pelatihan.” Mbak Asri tampak kebingungan.
“Sudah datang? Tapi tidak ada yang datang, Mbak. Yang datang terlambat tadi cuma salah satu peserta, Pak Dentra, tapi nggak ada tehnisi yang datang.”
“Lho, Pak Dentra datang? Bukannya tadi pagi beliau sudah telpon dan bilang ke saya kalau beliau hari ini sakit jadi berhalangan hadir. Sudah saya beritahukan ke Bu Nesia belum ya? Aduh, saya sibuk sekali sampai lupa memberitahu.”
“Jadi, yang datang tadi siapa? Tehnisi?”
“Iya, itu tadi Pak Priyatna, tehnisi MIS. Saya suruh langsung ke ruang pelatihan karena Bu Nesia terburu-buru butuhnya.”
“Yang pakai hem garis-garis biru dan celana jeans?”
“Iya. Itu Pak Priyatna, salah satu manager yunior MIS. Beliau yang langsung tangani karena anak buahnya sedang ada kerjaan semua.”
“Aduh, Mbak, jadi malu saya.” Nesia meringis mengingat kelakuannya menyuruh-nyuruh pria itu untuk berdiskusi.
“Lho, kenapa?”
“Habis dia tidak pakai seragam tehnisi jadi saya kira tadi Pak Dentra, jadi saya suruh langsung duduk ikut kelas, padahal…” Pipi Nesia memerah, malu. Aduh! Bagaimana caranya meminta maaf pada lelaki itu…
Nesia kembali ke ruang pelatihan dengan muka bingung bercampur malu. Segera dihampirinya lelaki itu dan dengan hati-hati mulai menyusun kata-kata permintaan maaf.
“Maaf, Pak Priyatna. Saya kira Anda tadi Pak Dentra…ehm, uhm” Nesia kehabisan kata-kata.
“It’s alright, Bu Nesia. I enjoy your class tremendously. I think it’s very interesting and enriching.” Jawab lelaki itu dengan penuh senyum, namun di matanya terbinar sinar menggoda. Nesia menjadi semakin salah tingkah. Seluruh kelas yang ternyata terlibat persekongkolan mengecoh Nesia tentang siapa Priyatna, akhirnya terbahak-bahak menanggapi kesalah pahaman itu, sementara Nesia semakin tersipu-sipu kehilangan kata-kata.
“I think it’s about time for me to fix the laptop. And if you allow me, let me stay for the rest of your class.”
“Ehm, thank you. Sure, you can. But of course, only if you forgive me for the misunderstanding.”
“Forgiveness granted. Now, let me do my ‘real’ work.” Lelaki itu berdiri dari kursi sambil mengerdipkan sebelah matanya. Kurang ajar, pikir Nesia, tapi harus diakui, lelaki itu memikatnya dengan selera humornya.
Seusai kelas, Nesia mengemasi alat-alat mengajar. Para peserta berduyun-duyun keluar ruangan untuk istirahat makan siang. Setelah istirahat makan, Nesia dijadwalkan untuk mengunjungi beberapa fasilitas tambang. Selama istirahat, pikirannya tak henti berpikir tentang Priyatna. Harus diakui, kesalah pahaman tadi sungguh memalukan. Namun cara lelaki itu menanggapi kesalah pahaman tadi penuh humor dan memikat, membuatnya jatuh kagum. Lelaki itu bisa saja mencaci makinya, apalagi karena posisinya yang cukup tinggi di perusahaan ini. Dan tentu saja, kemampuan pria itu cukup mengagumkan di kelas. Siapa guru yang tidak jatuh suka dengan murid yang pintar?
Setelah istirahat di messhall, Nesia menuju ke kantor administrasi HRD. Dari sana, seseorang pekerja akan mengantarkannya ke beberapa fasilitas tambang. Di sana ditemuinya lagi Mbak Asri untuk mengambil beberapa alat-alat keselamatan kerja. Hmm, cukup ribet juga kerja di tambang, harus memakai helm, sepatu bot, kacamata safety, jas hujan dan penutup lubang telinga supaya aman dari kecelakaan. Namanya juga bekerja di tambang, banyak resiko kecelakaan kerja. Nesia sudah mendengar segala cerita tentang kecelakaan di tambang. Dari mulai kejatuhan batu, kejeblos di lubang tambang, sampai telinga tuli karena bisingnya bunyi mesin. Dan Nesia tidak mau mengambil resiko, hingga dengan penuh teliti ia mengenakan semua alat-alat keselamatan yang disediakan untuknya. Resiko deh penampilannya yang manis dengan blus cantik dan celana kain jadi sama sekali kehilangan kemanisannya, terusakkan alat-alat yang ribet ini. Lagian siapa sih yang akan menengok dirinya di arena tambang. Nesia secara obyektif menyadari kalau dirinya biasa-biasa saja. Kalau memang dia cantik, pasti di usianya yang 23 ini pasti sudah ada gandengan dan bukannya gagal melulu saat naksir cowok.
“Bu Nesia, are you ready for the tour?” Suara undangan yang familiar itu mengagetkan lamunannya tentang situasi percintaannya yang pilu.
“Pak Priyatna? I thought…” ternyata pria itu lagi! Apalagi ini?
“Please call me Priyatna, no ‘Pak’. Jadi ngerasa tua jadinya. Tadinya memang orang HRD yang akan mengantar Ibu berkeliling, tapi ada beberapa fasilitas yang berada di area terbatas dan tidak sembarang supir boleh berkendara ke sana. Saya kebetulan punya ijinnya. Jadi saya menawarkan diri. Tapi kalau Bu Nesia tidak bersedia…”
“Oh, tidak apa-apa. Malah saya yang harusnya berterima kasih. Dan meminta maaf sekali lagi.”
“I told you, forgiveness granted. Mari, kita berangkat. I’ll show you the wonder of this mine.”
Dan mereka menghabiskan siang dan sore itu berkeliling dari satu fasilitas ke fasilitas lain. Dan harus Nesia akui, pria itu pandai menarik minatnya. Di sela-sela tur, Nesia mengenal lelaki itu dengan lebih dalam. Bahwa ternyata dia pernah kuliah pertambangan di Inggris. Pantas saja bahasa Inggrisnya sangat lancar. Bahwa dia adalah salah satu manajer yunior termuda di tambang itu. Bahwa lelaki itu Cuma dua tahun lebih tua darinya. Bahwa lelaki itu suka Agatha Christie dan documentary films di Discovery Channel. Dan, bahwa dia masih bujangan!
Dan tur itu adalah awal dari kedekatan mereka. Selama seminggu, Nesia diajak Priyatna mengunjungi berbagai tempat di tambang itu. Makan malam di restoran karyawan di puncak bukit, memancing di anak sungai dekat barak pekerja tambang, menonton film di bioskop perusahaan (dan ternyata mereka sama-sama suka film drama!), mengunjungi perpustakaan perusahaan dan berdiskusi seru tentang filsafat. Harus diakui, Nesia terpikat. Dan indahnya, tampaknya perasaan itu berbalas.
Seminggu berlalu. Nesia menantikan hari kepergiannya dari tambang dengan enggan. Rasanya ia masih ingin berlama-lama berada di lokasi tambang itu dan ia tahu keengganannya berhubungan dengan satu lelaki: Priyatna. Ia tak yakin jarak Jawa-Kalimantan yang terpisahkan oleh lautan akan bisa mendekatkan mereka lagi. Dan itu membuatnya pilu.
Priyatna mengantarkannya ke bandara pagi itu. Nesia menginginkan pagi itu berkabut atau hujan atau badai atau apalah. Hingga bisa menggagalkan penerbangannya. Atau alam mau bersolider pada kepedihannya. Namun justru pagi itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, matahari bersinar cerah, cenderung terik. Seakan mengejek dirinya.
Panggilan boarding. Sudah beratus kali Nesia mendengar panggilan itu di tempat lain, waktu lain, dan tidak merasa sepedih ini. Ah, satu lagi cerita cinta gagal. Menambah daftar cerita cinta gagal dalam sejarah hidupnya.

“Nesia, you have to become my wife.” Tiba-tiba Priyatna mengusik lamunannya.
“Come again?” Nesia belum sepenuhnya mengolah kata-kata Priyatna.
“Nesia, YOU, HAVE, TO, BECOME, MY, WIFE.” Priyatna menatapnya dan mengulang kata-katanya sepatah demi sepatah kata. Sejenak Nesia tergugu, tak percaya. Dan ketika ia sepenuhnya memahami kata-kata Priyatna, seulas senyum tersimpul di bibirnya.
“We’ll see…”
Pesawat Nesia tinggal landas menuju Jawa, namun sepotong hatinya tertinggal untuk Priyatna di belantara Kalimantan….

 
Desa BriBri, Kostarika, Januari 1998
Harus kuakui, perjalanan lima minggu di Amazon mendekatkanku pada Daniella. Kami menghabiskan waktu-waktu luang berdua dan mengecap kemanisan dunia, menjelajahi rimba-rimba badaniah yang hanya kami berdua tahu.
Semua orang sudah mafhum, kalau kami sekarang adalah sepasang kekasih. Bahkan Jorge, teman sekamarku, dengan sukarela pindah ke pondok lain. Takut mengganggu!
Namun, harus kuakui, aku punya rencana lain tentang hidupku. Setelah kelas lapangan ini, aku akan kembali ke Kostarika, menyelesaikan studi master dan mungkin mencari kerja di salah satu LSM. Sudah lama aku punya idealisme untuk bekerja di hutan-hutan negaraku dan menyelesaikan masalah-masalah kemiskinan di desa-desa sekitar hutan. Daniella? Dia juga sudah punya rencana lain di Mexico, hampir sama denganku, menyelesaikan studinya dan mencari kerja. Kami sama-sama menyadari, hampir tak mungkin hubungan kami ini dilanjutkan. Jarak Kostarika-Mexico itu jauh, Baby! Akan sulit membina hubungan jarak jauh macam itu. Yang penting saat ini kami sama-sama bahagia, meski sesaat. Ah, peduli amat! Hidup ini singkat dan harus dinikmati sepuas-puasnya. Soal hubunganku dengan Daniella akan kupikirkan nanti, ketika saatnya tiba.
Pagi ini tidak ada acara. Maria, si tukang pembuat acara, tadi malam mengusulkan supaya kami mengunjungi desa BriBri di dekat pondok kami. Katanya ada dukun suku Maya yang jago meramal. Cewek-cewek jelas penasaran dan antusias ikutan. Sementara cowok-cowok dengan rela (dan beberapa ogah-ogahan) mengikuti para pacar. Daripada tidak ada kerjaan di pondok. Lagipula, sebagian besar tugas kelas telah selesai minggu lalu. Minggu ini saatnya bersantai-santai setelah berminggu-minggu disiksa tugas dan pengamatan lapangan oleh Profesor Perales.
“Eh, Juan, giliran kamu tuh!” Ujar Maria padaku yang sedang bermalas-malasan di bawah pohon ek di depan pondok si peramal.
“Males ah, yang lain aja duluan. Lagian cowok-cowok nggak ada yang diramal. Ngapain? Buang-buang energi aja.” Jawabku malas.
“Lho, ini permintaan si peramal sendiri. Katanya, kamu harus dia ramal karena dia lihat sesuatu di masa depanmu.”
“Ah, yang enggak-enggak aja. Masak sih?” tukasku tak percaya. Yang benar saja si peramal bisa melihat masa depanku. Emangnya Tuhan apa.
“Ya udah, terserah. Si peramal tadi lihat kamu pas di pintu dan langsung kayak trance gitu.”
“Segitunya. Paling kamu ngibul dan ngerjain aku. Ya kan?”
“Anak Muda, sebaiknya kamu ikut saya sekarang. Ada sesuatu yang menarik di masa depanmu.” Tiba-tiba saja si peramal sudah berdiri di depanku dan Maria. Aku jadi merinding. Peramal itu kelihatan sudah tua dan bungkuk. Ada aura misteri yang sangat kuat terasa hingga aku mau tak mau merasa hormat padanya. Tanpa sadar aku berdiri dan mengikutinya ke dalam pondok. Jalan si peramal sudah goyah dan berjalannya harus dibantu dengan tongkat. Maria cuma terbengong-bengong, lalu buru-buru mengikuti kami.
“Tolong beritahukan kepada saya, tanggal lahirmu, jam lahirmu, dan tanggal lahir orang tuamu.“ Tegas peramal tadi sambil menyebar sejumlah kartu di meja di depannya. Aku menelan ludah melihat ekspresinya yang begitu serius, sementara Maria terdiam, menyadari keseriusan aura suasana.
“Eh, saya lahir tanggal 3 Maret 1974, jam lima pagi. Tanggal lahir orang tua saya, eh, sebentar, ayah saya 17 September 1949, ibu saya tanggal 10 Januari 1950.”
Peramal itu langsung menyusun kartu-kartu di mejanya. Lalu ia mencocokkan dengan diagram besar di sebelah mejanya yang penuh dengan simbol-simbol yang aku sendiri tak paham maksudnya. Sejenak digoreskannya pinsil di kertas di meja dengan jari-jarinya yang gemetaran, menghitung-hitung angka-angka. Setelah itu dipandanginya aku tajam-tajam. Aku menelan ludah, sepertinya ada sinar x-ray menembus bagian tubuhku hingga tak satu pun rahasiaku yang bisa kusembunyikan. Gawat!
“Anak Muda, menurut perhitungan Maya, kau adalah seorang penyihir putih. Sifatmu mulia, pintar bercerita. Kau akan dikelilingi banyak wanita yang mengagumimu. Namun celakanya, kau akan mudah terpengaruh oleh mereka. Kau harus berhati-hati.”
“Ter..terima kasih, Nek.” Aku terbata-bata menjawab si peramal. Gila, dikelilingi wanita! Pasti seru! Tapi hati-hati?
“Satu lagi. Aku melihat di masa depan, di usiamu yang ke-33 kau akan bertemu seorang perempuan. Dari jauh. Seberang lautan. Sangat berbahaya. Kau akan dipengaruhinya hingga kau tak mampu menolaknya. Sangat, sangat berbahaya. Dia sangat pintar. Dia akan menghancurkan hidupmu. Namun dia juga sangat mencintaimu. Lebih dari semua perempuan dalam hidupmu. Rintanganmu dan rintangannya akan sangat banyak, sangat sulit. Namun bila kalian berhasil menghadapi rintangan, hidup kalian akan bahagia.” Suara peramal itu seakan-akan penuh magis dan datangnya dari dunia lain. Maria ikut terdiam, seakan merasakan kegawatan dari ramalan itu.
Hah? Ramalan macam apa ini? Seorang perempuan? Di usiaku yang ke-33?
“Oh, dan tentang si gadis cantik tapi terluka. Aku tahu dia telah dan akan terluka, dan dia menyimpan benihmu dalam dirinya. Aku tahu ramalan untukmu ini tak adil untuknya di masa depan. Tapi percayalah, kau tak berjodoh dengannya dan hidupnya akan lebih baik tanpa dirimu.” Maria yang ada di dalam pondok itu terperanjat. Aku tak kalah kaget. Kami tahu pasti ucapan peramal itu ditujukan untuk Daniella. Tapi menyimpan benihku? Daniella hamil olehku? Bagaimana si peramal bisa tahu sedangkan aku dan Daniella saja tak tahu. Kupandang raut muka Maria yang pucat pasi dan menatapku dengan tatapan tak percaya.
Sejenak kami semua terdiam, sementara si peramal sibuk mengemasi kartu-kartunya. Perlahan pikiran logis memasuki otakku. Alah, ramalan macam ini kupercaya. Masak aku tak percaya pada Tuhan yang lebih menguasai nasibku. Ini cuma main-main Maria. Paling-paling Maria sudah merancang supaya peramal ini meramal yang aneh-aneh tentang kami masing-masing supaya acara ini jadi lebih seru. Dan tentang Daniella, tidaklah sulit untuk Maria memberitahu si peramal tentang semua orang yang akan diramal, termasuk hubungan antar kami. Ini semua omong kosong!
Tanpa banyak bicara aku tinggalkan pondok si peramal dengan separuh rasa jengkel pada Maria. Berani-beraninya dia merancang acara yang tidak bermutu macam ini. Kudengar Maria mengekor di belakangku, namun tak kuperdulikan.
“Juan, tunggu!.” Seru Maria di belakangku. Suasana di seputar pondok itu sudah sepi. Tampaknya teman-teman sudah duluan pulang ke pondok kami. Tak kuperdulikan panggilan Maria itu dan kupercepat langkah.
“Juan, aku serius. Kita perlu bicara.”
“Nggak perlu dibahas. Kalau tujuanmu supaya acara ini lebih menarik, usahamu udah berhasil. Bah, ramalan ngaco!”
“Demi Tuhan, aku tidak tahu soal ramalan tadi. Tapi serius, Daniella hamil?”
“Mana aku tahu? Tanyalah sama dia. Lagian kayak begituan nggak perlu kamu tahu. Sudah, aku capek.”
Sesore itu aku berusaha mengalihkan pikiranku dari ramalan sinting si peramal. Aku menyibukkan diri menata laporan-laporan yang telah kubuat supaya ketika minggu ini berakhir aku tinggal menyerahkannya saja pada Profesor Morales. Kurapikan catatan-catatan pengamatan menjadi kelompok-kelompok. Pekerjaan ini, meskipun tidak membutuhkan pemikiran yang dalam, tapi cukup membuat aku capek dan melupakan ramalan tadi. Daniella beberapa kali menemuiku di pondok kerja, tampaknya ada sesuatu yang hendak disampaikannya, namun melihat kesibukanku, niat itu ia urungkan. Ia memilih untuk keluar dari pondok kerja, entah kemana.
Baru seusai makan malam, aku bertemu dengan Daniella di dalam pondokku. Entah kenapa, wajahnya tampak begitu pucat, hingga kerapuhannya semakin terlihat. Apa ini ada hubungannya dengan ramalan tadi? Hatiku jadi dagdigdug was was, takut ramalan itu terbukti.
“Juan, aku telat.”
Sejenak aku terdiam, mencerna ucapannya.
“Juan, harusnya minggu lalu aku udah mens, tapi sampai hari ini belum…”
“Maksudmu?” hatiku semakin was was.
“Mungkin aku, aku…”
“Gak mungkin!” tukasku.
“Kita nggak hati-hati, dan aku pikir…”
“Gak mungkin! Itu nggak mungkin!” Kutinggalkan Daniella di dalam pondokku. Ramalan itu terbukti. Aku tak bisa berpikir dan aku melarikan diri keluar dari pondok, keluar dari kekalutan, sementara isakan Daniella terdengar semakin sayup seiring kepergianku….

 

Java Island, Juli 2000

Nesia tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. Perutnya tampak membuncit, tanda-tanda kehamilannya jelas terlihat. Dan dirinya merasa bahagia. Dielusnya dengan sayang perutnya, dan janin di rahimnya terasa menendang.
“Sabar, Sayang, Papa sebentar lagi pulang. Sayang sudah kangen Papa ya?” dengan nada lembut disapanya si jabang bayi.
Rumah Nesia pagi itu sibuk. Keluarganya siang itu berencana untuk mengadakan upacara tujuh bulanan kehamilannya. Priyatna, si lelaki muda dari tambang Kalimantan itu sejak delapan bulan yang lalu sudah resmi menjadi suaminya dan janin di dalam rahimnya ini hadir sebulan setelah mereka menikah. Kebahagiaan mereka terasa tak tertandingi. Suami yang begitu baik dan bayi yang dua bulan lagi akan ditimangnya. Pasti bayinya akan setampan papanya, pikirnya senang.
TO BE CONTINUED….

Silakan penasaran…hahahah…