Suwung Blues

+ DP

Hei, tidakkah kau sadari malam telah menjelang bagiku sedangkan bagimu matahari sedang hendak menanjak sepenggalah? Waktu adalah sesuatu yang tak terpahami ketika ingatan akan peristiwa dan gerusan dari pengalaman adalah variabel yang tak terpecahkan dalam hitungan detik, menit, jam dalam perjalanan matahari hari ini.

Yang kutahu di satu detik, menit, jam itu, matahari berhenti edarnya dan menelikung kita dalam pesona pribadi, pijar pikir, pancaran perasaan. Dan kita enggan beranjak, malas berpisah, rindu bertemu, dalam hitungan matematis waktu yang ramah memberi potongan harga tanpa diminta.

Kita mempersetankan omong kosong para pengkicau, sebab mereka gagal memaknai, gagu mengindera bahwa kita sedang merupa filsuf: menelanjangi diri, menelaah kisah, meragukan perasaan, menakar akar, meneliti mimpi. dan kita tertawa, menangis, murka, menjelajahi jalur hidup yang lalu dan yang akan datang. Absurd, absurd, absurd. Itulah kita. Tak terdefinisikan. Tak terjelaskan.

Tak ada kebetulan, semua adalah keniscayaan. Bahkan pertemuan kita. Bahkan perpisahan kita. Takdir Semesta.

Tapi bolehkah aku mengkhayalkan bahwa kita menjelajahi jalur hidup di titik perjalanan matahari yang sama? Lalu kemudian tangan kita bergandengan, kaki kita seirama, pikiran kita bertautan, hati kita mencinta dalam terik matahari yang membakar habis diri kita hingga mencapai ketiadaan, suwung seperti cabikan gitarmu menderukan blues?

Ziarah Rindu

Mungkin bukan rindu yang kau rasa
tapi gelegak jiwa mencari makna
terkaca benggala pada jiwa yang lain
dalam ziarah mencari si aku.

Aku merindukanmu.
Kamu?

Puisi Kolaborasi (lagi): Luka

Malam minggu. Suwung. Diminta memulai puisi kolaborasi. Jadilah puisi ini. Bagaimana?

Diterbitkan di Rima News:  http://rimanews.com/read/20120811/72177/perempuan-memakanai-luka-dalam-kata

SALATIGA, RIMANEWS — Malam ini lima penyair Kumandang Sastra, yang kebetulan kesemuanya perempuan, berkolaborasi dalam puisi yang berkisah tentang kekuatan mengubah luka menjadi bahagia. Puisi yang penuh dengan harapan ini kami harap bisa menemani Anda di malam Minggu ini dan menjadi selingan setelah seminggu bekerja. Salam sastra! (Neny Isharyanti, Editor)

===============================

DAN LUKA ITU LURUH

Oleh: Neny Isharyanti, Chuppy Alfiani, Ayano Rosie, Puteri Salju Rahysta, dan Susilaning Setyawati

Bukankah semua ini adalah
kesia-siaan itu, Duhai?
Sesempit dunia tidakkah
kilometernya adalah duka
menganga meluka?

Luka begitu dalam terhujam
sampai di putih tulang
Sampai kapan kan kurasakan perihnya
ataukah tak kan pernah hilang?

Biar saja luka berbaris di tepi hati
merapikan diri
menjemput kenangan
waktu terus berkeliaran

Biar saja luka menghimpit jiwa
memarkan palung hati
merapatkan mimpi
masa terus berterbangan

Aku ingin tersenyum pada luka
biar ia mengering dan merana
dan isak tak lagi mengharu
selepas malam nanti

Aku ingin tetap di sini
sekeping hati menantimu
menggamit penuh kelembutan
menggandeng penuh kemesraan

Tak kan kubiarkan luka menganga
Akan kutebar bunga agar jembar jiwa
Mari dekap erat dan saling mengikat
agar tiada sempat sakit memasuki sekat

Dalam ikhlas mutiara
akan bersinar juga pada
akhirnya

Dalam balutan
menghapus lukanya
akhirnya

Sabarkan
Terimakan

dalam satu dermaga
dalam kepercayaan laut
: Tiada luka berkabut

-Salatiga-Bekasi-Makassar-Hong Kong-Sragen-
11 Agustus 2012

===============================

PARA PENYAIR YANG TERLIBAT: (dalam urutan abjad)

*) AYANO ROSIE Lahir di Cakke-Enrekang, Sulsel, pada tanggal 22 desember. Mulai menulis puisi sejak SMA tapi hanya sampai pada buku harian, lalu diterbitkan di Facebook sejak 2010. Pernah meluncurkan antologi bersama ” Indonesia Berkaca” tahun 2011 dan satu karyanya diterbitkan di berita mingguan Singapura tertanggal 6 Mei 2012

*) CHUPPY AFIANI Bernama asli Peppy Afiani, lahir di Jakarta 27 Juni. Lulusan YAI jurusan Ekonomi Managemen dan menulis pusi sejak SMP lewat majalah dinding. Sehari-hari berprofesi sebagai ibu rumah tangga yang bermukim di Bekasi sambil menulis puisi.

*) NENY ISHARYANTI Penulis ini menilai dirinya sebagai perempuan dengan berbagai peran : ibu dua anak, pengajar di sebuah universitas, mahasiswa pasca sarjana, peneliti pembelajaran bahasa dengan menggunakan teknologi, penulis puisi dan blog, pembaca novel sejarah, penyanyi jazz, dan penikmat permainan komputer. Berasal dari Salatiga, Jawa Tengah. Antologi yang sudah diterbitkannya ialah : Sajak Rindu di Negeri Itu (2012) dan puisi-puisinya terangkum di blog pribadinya https://nenyizm.wordpress.com/

*) PUTERI AYU RAHYSTA Pemilik nama asli Arin Wahyuni ini lahir di Blitar, Jawa Timur, 4 April. Gemar makan bakso dan bebek goreng dan merah warna kesukaannya. Sifatnya keras kepala,tapi manja dan suka cengeng. Apa yang diinginkannya harus tercapai. Hobinya merajut aksesoris berbahan manik-manik dan menulis. Motto hidupnya : Jadilah diri sendiri dan hadapi segala persoalan dengan ikhlas serta tabah,serta jadikanlah pengalaman guru terbaik dalam hidup.

*) SUSILANING SETYAWATI. Terlahir di Sragen pada tanggal 05 November. Menulis ketika mulai kuliah di Majalah kampus sebagai redaksi Majalah “Motivasi”. Ikut bergabung dalam teater PERON Surakarta dan ikut gabung dalam RSP (Revitalisasi Sastra Pedalaman). Puisi dan cerpennya mulai tahun 90-an tersebar di berbagai koran di Jateng dan DIY.

*) VAGINA MONOLOG pernah begitu heboh mengharu biru, mengaduk-aduk perasaan bagaimana luka perempuan diekspresiskan dalam bentuk seni terutama teater, dan barangkali puisi luka diatas juga refleksi luka yang diekspresikan dan dimaknai dalam bentuk yang berbeda adalah para anggota Kusas dengan satu aba-aba seperti Oekesta dengan harmoni dan padu kata-kata disusun dan dirangkum menjadi Puisi, Didiek Soepardi MS , Pengasuh dan Penanggungjawab Kusas Semarang, Salam Sastra. (Wrh/RIMA)

Reflecting on Life and Death

A mini anthology of my poems about life and death is published in Rima News. Check it out here:

http://rimanews.com/read/20120720/70061/refleksi-hidup-dan-mati-dalam-puisi-neny-isharyanti

I guess I’m getting more serious these days….

Voices from Melbourne (2)

Membacakan puisi Pak Driya Widiana MS di Aksi Voice From Melbourne: Indonesia without Corruption hari ini di Federation Square. Reaksi fotografernya, @Masnijuri, adalah terharu. Berikut adalah puisinya, beserta terjemahan bahasa Inggris saya yang maaf tak seindah aslinya

=========================

MASIHKAH ADA… (Aren’t There?)

Oleh: Didiek Soepardi MS

Masih adakah telinga untuk mendengar (Aren’t there ears to listen?)
Ketika jerit kami kian melengking (when our cry is shrieking)
otot leher serasa pecah (tearing our throat)
dan mulut semakin kering (drying our tongue)
menuntut keadilan (demanding justice)

masih adakah benak untuk berpikir (Aren’t there mind to think?)
ketika bersidang menyusun peraturan (in your assembly drafting)
dan keputusan (deciding)
sementara kami bertambah tak menentu (when we’re in limbo)
dalam ragu sangsimu (in your indecisiveness)

masih adakah nurani yang bicara (Aren’t there conscience to speak?)
ketika keadilan diperdagangkan (when justice is being traded)
dan pidatomu hanya slogan (and your speech is nothing but slogan)
yang menyemburkn ludah ke muka kami (spitting our face)

masih adakah merah putih (Aren’t there the red and the white)
berkibar di dadamu (waving in your heart)
ketika bendera partai (when the insignia of the parties)
merimba di Bumi Pertiwi (reigning the land)

02 Juni 2012

Sekecap Coklat: Menyambar Ide Secara Kreatif

Seringkali penulis puisi mengeluhkan kemandegan getar kreatifnya karena ketiadaan ide. Namun sebenarnya, ide itu bisa muncul kapan saja, di mana saja, dari mana saja. Demikian pula sajian puisi SEKECAP COKLAT berikut ini. Bermula dari usulan Dewi Kelana, salah seorang anggota Kumandang Sastra (atau KuSas, sebuah perkumpulan penulis puisi di Facebook) untuk menuliskan puisi kolaborasi berdasarkan celetukan salah satu anggota yang lain yang terus menerus menyebutkan kata “coklat” karena dia tengah mengunyah sebatang coklat sambil mengobrol santai bersama anggota KuSas yang lain melalui fasilitas chat di Facebook. Spontan dan mengalir saja ketika usulan tersebut diekspresikan dengan menulis sebait pendek yang ditimpali dengan bait-bait pendek selanjutnya melalui fasilitas dinding kelompok di Facebook.
Sederhana saja sebuah ide itu muncul, dan sesederhana pula ide itu disambar secara kreatif. Yang dibutuhkan adalah memanfaatkan spontanitas dan mewujudkan energi kreatif itu menjadi sebuah puisi. Dan terciptalah sebuah puisi kolaborasi. Bagaimana menurut Anda?
Salam sastra, Neny Isharyanti (editor)
===================================================
SEKECAP COKLAT
Oleh:  Dewi Kelana, Onald Anold, Kesatria Bergitar, dan Neny Isharyanti
melumer di lidah manis legit rasuki hati
serasa layang melayang terayun mimpi
dan mimpi buruk tiba
kalau lumeranmu
ternganga parah
diaduk tiada
: itu buah cinta kekasih, tergolek dua batang di ranjang sepi
oh manis itu
legit itu
membuai rasa birahi
hangatkan sunyi malam
lumer
lumerlah dalam kuluman
dan bercumbu dalam
pahitnya mimpi buruk
dan menyadari bahwa
hangatnya adalah
absurd dan maya
: dan manis coklat ku kini tinggal ilusi.
Sejauh ilusi ini
beredar
mimpi akan seturut
ranjang sepi kita, Kekasihku
dan kucumbui
pahit manisnya
dalam birahi malam
yang terkulum sepi.
Dan hati akan
terkunci
dalam lumeran
separuh mimpi.
Probolinggo-Jakarta-Cirebon-Melbourne
4 Juli 2012
KONTRIBUTOR
Dewi Kelana – Pemilik nama K Pudji Peristiwati ini lahir 30 Juni 1963. Lulusan UNDIP Semarang dengan status ibu rumah tangga. Suka menulis puisi sejak SMP, puisinya pernah di muat di majalah remaja th 1977 (lupa judul dan nama pena yg dipakai). Lama vakum dan aktif kembali sejak awal 2000an di Yahoo answer ( 1 th), namun tak pernah menyimpan filenya. Kembali aktif di facebook, hingga sekarang.
Onald Anold – pemilik nama asli Ronald Pangaribuan ini adalah putra Batak kelahiran betawi. Penyuka puisi dan pemrakarsa ”Cinta tanpa Warna”
Kesatria Bergitar – mengaku sebagai seorang pengangguran dengan kerja tak karuan, berkantor di pinggiran jalan dan tak lebih sekedar bocah ingusan. Tinggal di cirebon, suka baca puisi dari SD. Teh, PC, dan puisi adalah prioritas, menurutnya.
Neny Isharyanti – menulis puisi sepanjang sempat dan niat. Suka memrovokasi para anggota KuSas dengan ide-ide yang terdengar gila tapi bisa menghasilkan sesuatu yang tidak mainstream. Dalam dunia nyata, tinggal di Melbourne, Australia, dan “pura-pura” menjadi mahasiswa yang baik dan benar menurut kaidah akademis, sebelum nantinya kembali ke Salatiga untuk menjadi dosen dan memrovokasi mahasiswanya agar tidak sekedar menjadi manusia satu dimensi.