Paradoks Pedih

Jadi pisau yang kau sarangkan di dadaku ini
membuatku tersadar bahwa
aku pun bisa pedih
ketika dunia melihatku tegak berdiri.

Sudah berapa kali pisau itu terhujam,
hingga air mata menitik seperti hujan di musim kemarau?
Kau tentu tak pernah melihatnya bukan?

Dunia tak pernah melihat air mata.
Tak kan pernah.
Sebab kusimpan titiknya di sudut rasa terdalam dalam kelam malam.
Di hadapmu adalah senyum.

Dalam malam kelam.
Dalam bait puisi.
Dalam raungan lagu.
Dalam timpaan kerja.
Bersembunyilah titik air mata.
Dunia pekak buta bisu akan nyeri.

Paradoks pedih itu, Sayang,
adalah dekat tapi jauh.
Jauh tapi dekat.
Ada tapi tiada.
Tiada tapi ada.
Entah sampai kapan.
Entah akan ke mana.

Apalah aku.
Siapalah aku.
Paradoks pedih tertapaki.
Tanpa tahu peran,
Tanpa sangkan paran.
Cuma bisa mencinta.
Sepenuhnya.
Hingga titik ternadir

Dan jika titik ternadir itu tercapai,  
Kau mungkin akan pergi.
Aku terlupa di lipatan kenangan-kenangan baru.
Peranku telah habis terkikis.

Aku baik-baik saja.
Selalu baik-baik saja.
Bukankah kesendirian itu keniscayaan jagat raya ini?
Selalu kupilih bahagia, bagaimana pun caranya.
Bahkan tanpamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s