Menyerah

Tidakkah kamu seperti hantu belau tiba-tiba menikamkan rasa dalam hatiku yang getas?
Kata-kata adalah pedang yang kau ancamkan dan aku tak bisa tidak harus menyerah di bawah todongan.
Kejam, memang. Tega, memang. Kamu. 

Darah itu merah, seperti mawar, seperti anggur, seperti cinta. 
Hingga ceceran darah dari tusukanmu itu kurekahkan seperti mawar, kusesap seperti anggur, kujemba seperti cinta. 
Ah, darah, mawar, anggur, cinta. Bertaut berkelindan. Kamu. 

Ini memang puisi tak layak terbit. Karena kata jadi kelu ketika menyangkut kamu. 
Tapi tak bolehkah kuteriakkan protesku kepada dunia ketika hatiku merasakan kamu?
Karena entah kapan, ya, entah di dimensi waktu mana, rasa ini akan dimaklumi dunia. 

: Mungkin tak akan pernah. 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s