Mesin Waktu

Puisiku kelu, membisu.
Bingkai-bingkai ingatan tertelan waktu.
Entah kapan Semesta melempar dadu
hingga bidak bertemu.

Kuharap kau menyimpannya sebagai
penanda dalam memorimu.
Sebab seperti katamu, 
mesin waktu terdekatmu adalah citra ternetra,
buatku puisi adalah mesin waktu terdekatku.

Namun bila puisiku membeku
kupersalahkan kau untuk itu
sebab pesona sebentuk pribadimu
membius, menggoda, memanja
hingga membuat kata-kataku jadi membatu
tak mau tahu.

Kupuja pada Semesta
kau menyimpan citra ternetraku
lalu kau sudi melongoknya dan menandaiku
lalu tersenyum mengingatku
di sore berhujan itu
ketika waktu menyerah dalam kedekatan
dan kita menyublim dalam lagu.
(dan mungkin, mungkin saja,
kau akan tergoda untuk lebih dari sekedar memutar mesin waktumu)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s