Surga Dunia (Katanya)

Perempuan telanjang di atas ranjang
Berpeluh dalam keluh
Suami terkapar dalam dengkur menguar
Anak-anak lelap dalam gelap
Raga letih menuntut merepih
Tak tahukah sibuk hari ini menuntut menakar tak henti?

Sedari dini memaksa nyalang
Sebab si sulung meminta bunda mengantar menjemba cita
Sedang si bungsu menuntut dalam lapar harus diturut
Di mana ayah, wahai Anak-Anak? 
Mengumbar liur di atas kasur
Semalam bersapa dengan tetangga di ujung desa

Siang meradang, letih datang tak diundang
Cucian bertumpuk, asap mengepul dari dapur
Lantai musti cemerlang, tak terserak barang-barang
Sementara si sulung dan si bungsu menantang sabar, menggeratak segala arah
Di mana ayah, wahai Anak-Anak?
Bekerja membanting tulang, katanya
Mencari nafkah demi keluarga, tegasnya

Senja menjelang, matahari menghilang
Si sulung duduk mengkaji
Si bungsu mengantuk dalam gendongan
Bunda membagi diri setengah mati meneguhkan hati
Ayah entah ke sudut desa mana bersapa dengan tetangga

Malam beranjak larut
Mata perempuan tak tahan kantuk
tapi tak boleh bantal guling dipeluk
tak menunggu si lelaki bisa berarti diamuk
tanda cinta pada suami, katanya
tanda bakti pada suami, tegasnya

dan ketika si lelaki pulang yang ada hanya telentang, ranjang, jalang
tak perduli sapa, tak perduli kata, apalagi memanja
lalu siapa yang bilang ini surga dunia?

+ Salatiga, 26 Februari 2014
+ Jelang Subuh

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s