Senja [draft]

“Senja ini terlalu kuning.” komentarmu memandangi semburat langit di barat dari lantai 5 hotel yang kutempati. Bertelanjang dada, dengan tato naga di punggung, tubuhmu menyiluet di muka jendela kaca. Tak terbaca ekspresi raut wajahmu olehku dari pembaringan.

“Tapi tetap bagus kok.” sanggahku sambil menarik selimut menutupi tubuhku yang berpeluh. Dinginnya AC menggigilkan, nyaris aku memohonmu untuk kembali ke pembaringan sebelum senja turun dan hari menggeliat menuju malam.

“Aku tak suka senja yang terlalu kuning. Suasana menjadi muram. Harusnya senja itu kemerahan. Cantik. Berani. Seperti kamu.” gumammu, tak melepaskan pandang sedetik pun dari matahari yang terbenam dalam cahaya keemasannya.

“Yang terakhir itu pasti gombal, kan?” ucapku sambil tersenyum. Harus kuakui kamu pandai mengolah kata.

“Ah, senja yang terlalu kuning. Sore yang terlalu muram.” desahmu.

“Lalu kenapa terus kau pandang? Kemarilah. Temani aku.” undangku dengan suara manis.

“Sampai kapan?”

“Kau tahu sampai kapan, Sam.”

“Sampai masa kunjunganmu di kota ini habis. Yang berarti cuma sehari, dua hari, lalu kau pergi, Neng.”

“Kamu bosan? Kamu malas ketemu aku?”

“Tentu tidak, Neng. Aku menanti setiap perjumpaan kita. Aku menunggu setiap pertemuan kita. Tapi aku tak tahan menghadapi perpisahan kita.”

“Sampai kau memutuskan, situasi tak kan pernah berubah, Sam. Kita akan tetap bertemu di suatu hotel, di suatu kafe, di suatu sudut kota entah di mana kita terdampar dalam perjalanan-perjalanan kita.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s