Suwung Blues

+ DP

Hei, tidakkah kau sadari malam telah menjelang bagiku sedangkan bagimu matahari sedang hendak menanjak sepenggalah? Waktu adalah sesuatu yang tak terpahami ketika ingatan akan peristiwa dan gerusan dari pengalaman adalah variabel yang tak terpecahkan dalam hitungan detik, menit, jam dalam perjalanan matahari hari ini.

Yang kutahu di satu detik, menit, jam itu, matahari berhenti edarnya dan menelikung kita dalam pesona pribadi, pijar pikir, pancaran perasaan. Dan kita enggan beranjak, malas berpisah, rindu bertemu, dalam hitungan matematis waktu yang ramah memberi potongan harga tanpa diminta.

Kita mempersetankan omong kosong para pengkicau, sebab mereka gagal memaknai, gagu mengindera bahwa kita sedang merupa filsuf: menelanjangi diri, menelaah kisah, meragukan perasaan, menakar akar, meneliti mimpi. dan kita tertawa, menangis, murka, menjelajahi jalur hidup yang lalu dan yang akan datang. Absurd, absurd, absurd. Itulah kita. Tak terdefinisikan. Tak terjelaskan.

Tak ada kebetulan, semua adalah keniscayaan. Bahkan pertemuan kita. Bahkan perpisahan kita. Takdir Semesta.

Tapi bolehkah aku mengkhayalkan bahwa kita menjelajahi jalur hidup di titik perjalanan matahari yang sama? Lalu kemudian tangan kita bergandengan, kaki kita seirama, pikiran kita bertautan, hati kita mencinta dalam terik matahari yang membakar habis diri kita hingga mencapai ketiadaan, suwung seperti cabikan gitarmu menderukan blues?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s