Kata-Kata

Penyair itu tersumbat kelu
entah lidahnya yang pelo itu
sudah tergorok mesin penguasa
atau jejaknya sudah tercecer
bertetes darah tersapu jaman.

Toh, penyair bukan kata-kata
sesudah dilahirkan kata-kata tak lagi miliknya
ia adalah milik jaman, milik pembaca
untuk diteriakkan para demonstran
untuk dituliskan para jurnalis
untuk dimaklumkan para pengirim petisi
untuk direnungkan para filsuf

Cuma pembaca yang merasa
kata-kata itu sekedar gombalan kain pengelap meja kursi
atau penanda sejarah pengkritik durjana pembangkit perlawanan
dan bahkan ketika kata-kata lebih tajam dari peluru AK-47
berapa dari padamu yang masih ingat pada penyair pelo itu?

Di jaman ini, membaca Pramoedya Ananta Toer sambil ngopi ngobrol di kafe
adalah suatu pertanda manusia hipster terpelajar tinggi hati
Di jamanku, membaca Pramoedya adalah manusia buangan
sembunyi-sembunyi takut dicokok tentara dimasukkan sel
Di jaman ini, diskusi politik lalu posting menghujat pemerintah di media sosial
adalah suatu pertanda manusia idealis aktifis kritis
Di jamanku, diskusi politik lalu mogok makan menuntut pemerintah adalah manusia tersingkir
manusia pemberani yang tak perduli nyawa diri siap di-dor mati

Jaman berubah, jaman berganti
keran bicara disumbat, keran bicara dol muncrat-muncrat
tetap saja, politik dagang sapi, politik ibu suri tak bergeming
Wahai penyair, kata-katamu itu gombal lap meja kursi?
atau kata-kata yang tak lekang pembangkit semangat macam milik sang penyair pelo itu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s