Salatiga – Jalan Jendral Sudirman

Apa yang kau cari di sepanjang Jalan Jendral Sudirman?
Sementara keabadian tak ada dalam kamus kota ini?

Jika Taman Sari dengan perdu-perdu hijau itu dan lapangan tenis yang kau ingat
gantikan ingatanmu itu dengan menjulangnya mall
yang tak surut dikunjungi ibu-ibu pencari diskon
anak-anak pemuja permainan game
bapak-bapak penunggu setia teman belanja
deretan parkiran mobil sesak sepanjang depan GPD
yang tentu tak lagi serupa sebangun ingatanmu
ketika tak ada gedung pertemuan lain di kota ini
dan hotel Kaloka yang tak lagi bergaya arsitektur Belanda tropis
wajahnya terpulas gincu deretan ruko
dan gedung gereja GPIB dalam keanggunan baroknya
terengah-engah sesak dalam halamannya yang kiat sempit.

Ya, ya, mungkin kamu masih bisa menatap sepanjang jalan Jendral Sudirman
di seputar tugu jam yang tetap saja setia tegak
walau jarumnya sering enggan berdetak
dipagari pagar yang sering sesak dengan bendera parpol merah, kuning, hijau, biru
pagar yang telah berubah menjadi kinclong
tapi serasa tak kompak dengan tugu jam yang putih krem menatap empat penjuru
dan kolam yang buram tak ada ikan
macam potret kota kita yang tak kompak menjaga bangunan lama yang anggun itu
kecuali yang kau maksud adalah rumah dinas walikota
yang dulu adalah rumah dinas residen Belanda
yang menyaksikan betapa bundaran Taman Sari itu pernah sangat asri
dengan taman-gereja-terminal yang meng-Eropa cantik
(cerita mbahku almarhumah, katanya begitu. aku pun tak tahu.
cuma foto-foto lama fotografer yang temanmu gereja itu yang bicara
dan aku terganja, termimpi untuk tinggal di kota kita pada masa itu)

Rumah Belanda itu masih tegak berdiri, meski tanpa lapangan tenis di belakangnya
di muka, di halaman, patung Ganeca, lambang kota kita masih duduk dengan senyum misteriusnya
dan lapangan tenis itu?
menghilang menjadi gedung bank, berarsitektur modern serba kaca, namun mangkrak bertahun-tahun
krisis ekonomi katanya, tak ada uang, bank bangkrut
lalu menjadi hotel Quality (jika kau datang, mungkin kau akan singgah ke sana)
milik salah satu taipan kota kita
yang dulu hanya punya apotik dan toko cuci cetak foto di ujung jalan
tapi kabarnya gara-gara praktek klenik, mengorbankan darah daging
sekarang punya usaha perumahan real estat di seberang rumahmu di dekat rumah sakit tentara itu
dan segudang gedung dan anak usaha yang beranak pinak, juga hotel di belakang rumah dinas walikota itu.
kaya raya, bukan? ya, kaya raya.
bahkan kota kita yang seuprit ini punya juga taipan, dan bukan cuma dosen universitas swasta dan pensiunan atau pegawai negeri
atau pegawai pabrik tekstil di ujung kota kita dan pengusaha kost-kostan atau makanan kelas gurem.

Gunung Merbabu saja yang abadi
kokoh tak berubah
mengawasi kota kita
birunya selalu kau rindu bukan?
damainya selalu kau mimpi bukan?
Ia masih biru masih damai
terpandang dari bundaran kota kita

Jangan tanya soal warung bakso Taman Sari di dekat bundaran itu
atau tentang apotik Vitra, apotik terbesar di kota kita di sebelah gereja GPIB itu
atau bioskop Reksa, bioskop pemutar film-film esek-esek dan India dan film yang ditolak di bioskop mainstream
atau bioskop Salatiga Theater, pemutar film tentang Pemberontakan PKi yang kita tonton ramai-ramai berseragam satu sekolah
atau pasar loak di jalan Damar tempat ayahku membelikanku buku-buku sekolah jaman SD
atau toko mas OHH, Bagong, dan semacamnya di depan Pasar Wetan (itu istilah kampungku, entah apa namanya di kampungmu)
bahkan sepupuku yang sudah kuliah pun tak tahu ke mana rimbanya.

Warung bakso dan apotik itu telah berpindah tempat
jadi lebih mentereng, jadi lebih bergaya
tapi tak ada yang menggantikan sensasi makan bakso Taman Sari
di bangku kayu sempit berjejal sambil memandang rumah dinas walikota
sambil menunggu keberangkatan mobil travel ke Surabaya, ke Jakarta
atau mencari tahu berat badan di apotik itu sambil melirik deretan pisang yang dijual di mukanya
sambil menunggu giliran membeli obat yang entah kapan datang (ini masih sama juga kok)

Warung bakso itu sudah pindah di depan SMP-mu, SMP Pangudi Luhur,
yang alhamdulillah, masih bergaya bangunan Katolik yang selalu terasa damai,
walaupun namanya tak berubah jadi Bakso PL gara-gara pindah lokasi
warung yang lebih wah, lebih lega, lebih leluasa tapi tak terasa sama
(sayang tidak pindah dari dulu, sehingga kau bisa membolos, makan bakso bersama pujaan hati yang dulu kau bikinkan puisi itu)
Apotik itu sudah pindah lokasi, ke seberang rumah dinas walikota juga, tapi nyempil di pojok jalan Diponegoro
lebih wah juga, lebih lega juga, lebih leluasa juga tapi tentu tak terasa sama tanpa deretan penjual pisang di depannya

Jangan bicara soal bioskop. Reksa, Salatiga Theater atau Madya.
Kota kita tak ada lagi hiburan film, semenjak VCD bajakan dan persewaan film bertebaran di sepanjang jalan Jendral Sudirman dan segala gang kecil di kota kita, bahkan di kampungku yang dulu namanya Kampung Renteng, lalu berubah jadi Ledoksari, lalu berubah jadi Jetis Wetan, lalu sekarang orang baru menyebutnya sebagai kawasan Monginsidi
(maklum, orang baru, pendatang, tak tahu sejarah, tak mau cari tahu)
Kalau kau mau mengajakku menonton segala film aksi laga detektif atau spionase kegemaranmu itu, sebaiknya kita berjejal-jejal dalam bis antar kota (mungkin naik Safari, yang katanya punya orang kota kita) sepanjang jalan Solo-Semarang melewati Bawen, Merak Mati, Ungaran, Pudak Payung, Watu Gong, hingga ke Simpang Lima
Rute yang dulu kau jalani tiap kilometernya tiap pagi dan sore, menjadi arsitek muda di proyek bergengsi di Watu Gong
tapi tentu tak sama, tak sama dan sama sekali tak sama
Sejak orang bisa gampang kredit mobil dan motor, entah siapa yang membuat aturan kredit dengan sangat gampangnya, mobil dan motor seperti semut di musim kemarau, berderet-deret padat, hilir mudik, tak henti, hingga tak cukup 2 jam untuk ke Semarang (padahal dulu cuma 1 jam)
Jadi mari kita menyewa film saja, menutup pintu kamar, dan menontonnya berdua sambil berpelukan. 

Membaca buku katamu? Membeli di pasar loak Jalan Damar itu?
Lupakan saja, pasar loak sudah pindah di kompleks Pasar Raya, di belakang Pos Polisi di Jalan Jendral Sudirman (Posis, kata ibuku)
Untungnya sehabis membeli buku kita masih bisa menikmati Ronde Jago, di tempat biasanya
(Jangan lupa belikan aku sepotong kue keju, seperti kebiasaan budheku dulu)
Atau mau makan Sate Sapi Suruh? Sensasi kuliner baru yang sebenarnya bukan khas kota kita
cuma karena letak Suruh (atau Suroh, begitu pengucapan orang kabupaten Semarang, yang suka kita cemooh saking ndesonya)
cuma sepelemparan batu dari kota kita, lalu diakuisisi menjadi kekhasan kuliner kota kita
padahal ronde di sepanjang Jalan Jendral Sudirman, atau enting-enting gepuk dan kripik paru di dekat Klenteng Ho Tek Bio, atau bakso Taman Sari, atau lothek Mak Nin di dekat lapangan Pancasila sana lebih pantas menyandang gelar sebagai kuliner kota kita

Segala toko mas itu sudah berubah bentuk, berpindah tempat, sebab Pasar Wetan sudah berubah wajah juga
deretan ruko yang lebih modern, lebih bersih, lebih terawat sudah menggantikan wajahnya
tapi jangan tanya ketika pasar pagi merupa
segala hiruk pikuk pasar dengan segala penjual sayuran, daging, telur, bumbu dapur, dan tak lupa sambel tumpang
akan tumpah ruah di sepanjang Jalan Sudirman, ya di sepanjang Pasar Wetan itu
jadi jangan paksa aku bermobil melewati jalan itu sebelum jam 7 pagi
kecuali kau belikan aku sepincuk sambel tumpang dengan penuh cinta sebagai kompensasinya

Apa yang kau cari di sepanjang Jalan Jendral Sudirman?
Sementara keabadian tak ada dalam kamus kota ini?
Sepotong kenangan, sepotong ingatan mungkin?
Di kota ini, waktu tetap berjalan merangkak
Di kota ini, senyum adalah barang yang luar biasa murah
Di kota ini, damai tak pernah henti
Di kota ini, aku masih menikmati udaranya yang luar biasa menyamankan
(Dan pasti kau akan memaki, karena kau teringat memori, lalu benci, lalu rindu, lalu ingin terbang ke pelukku di kota ini)

Advertisements

One thought on “Salatiga – Jalan Jendral Sudirman

  1. saya adalah anak salatiga yang kini berada di bumi sulawesi. memang pedih mas, kala melihat kota asalku yang semakin hilang dari ciri khasnya. Dahulu di era 70an sampai 80an salatiga merupakan kota kecil yang indah. sekarang ini sepertinya berkesan lebih hedonis sebagaimana kota2 lain di tanah air kita ini. tragis memang.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s