Mengeja Hari

Berulangnya hari adalah mengejanya dalam sunyi
sebab tidakkah bola merah itu berjalan dalam edarnya
tanpa banyak cakap?
Ah, 44 tahun itu adalah mengeja cerita
bersama tenang kota di punggung gunung itu
bersama gairah kota berhati nyaman itu
bersama kerasnya kota yang tak pernah tidur itu
dan bersama kota sejuta kesempatan di seberang itu
entah jalur kita berkeliaran ke mana
hingga senyummu tak kunetra dalam
enam belas ribu dua puluh tujuh hari itu
meski membaginya dalam ruang yang sama
sesalkah?
kalau boleh, dan mungkin saja boleh,
kupeluk engkau dalam harap dan doa
di hari ketika kau mengulang kelahiranmu kembali
mungkin sama, dan mungkin saja sama,
ketika kita mengulang reinkarnasi
sebab sosokmu tak asing dalam jiwa.
kalau boleh, dan mungkin saja boleh,
kutemani engkau dalam karya dan cita
di hari ketika kau mengulang mimpimu kembali
mungkin sama, dan mungkin saja sama,
ketika kita sama-sama naif menantang hidup
sebab jiwamu tak asing dalam dekat.
Selamat mengeja ulangan hari itu, Sahabat Jiwa!
Mimpi itu tak jauh dari genggaman
sebab kau tengah menapaki jalan ke arahnya.
Salatiga, 22 November 2012
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s