Dalam Langit, Dengan Rabun, Ke Ujung Malam

Sudahkah kau tuliskan kata cinta dalam langit malam kelam?
kelamnya menghablurkan kelap-kelip makna hingga lamat-lamat tak ternetra
atau mungkin, mungkin saja, bisa saja, mataku yang telah kabur menangkap makna.

Sejak bulan terbunuh di ujung pedang yang kau genggam
kupaksakan mataku menerawang kata-katamu hingga ke ujung malam
hingga rabun menyerang tanpa ampun seperti virus ebola membinasakan
kuasa inderawi memang bertekuk lutut dalam seringai beringasmu.

Ampun.
Sepeluk ampun.
Bisakah obor jarak itu kau sulut dan semat di ujung pedangmu?

Mungkin, mungkin saja, bisa saja, ternyata bukan kata cinta
yang kau tintakan di langit malam kelam, tapi bisa berbisa.
Setidaknya, mampukan aku menangkap makna
sebenar-benarnya
sejelas-jelasnya
seterang-terangnya.

: Aku lelah memburu kelap-kelip makna dalam langit malam kelam dengan rabun mata hingga ujung malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s