Ke Pulau Biru Itu Menuju

mengarungi
samudera berbadai ini
aku gamang dan ngeri.
dan hujan menggericih
menggigilkan hati
menjadi jeri.  

kecamuknya gelombang
tak merupakan
citra pulau
berpasir putih itu.

sebiduk besar
berlayar lebar
adalah tercecar
tertatih cemar

selingkar waktu
teriakmu tak cukup untuk
mengayuh rindu
pada pulau itu.

mungkin waktu
tak lagi mendayu
mungkin waktu
sedang memburu

baiklah, padamu
kuseru
layar tegak
biduk bergerak
badai itu tak guna
dinetra semata
gelombang pasang
terbentang ke seberang
tak akan arung
oleh diri bersarung

pulau, wahai pulau
berpasir putih terindu
apakah akan menunggu?
meski aku tiba compang-camping tergugu merayu?
atau aku lenyap dilibas gelombang badai hujan hantu belau?

kau terkekek mengejek
katamu aku tak lebih dari pelaut perek jelek
badan jiwa hati terobek-robek
mustahil terhantar di haribaan
pulau biru nirwana impian
paling-paling terpuruk cacian

ya, biarlah
gelombang badai hujan
aku terobek terkekek jelek
kau mengejek
biarlah, Tuan.

Saatnya berjuang
Saatnya mengarung gelombang
Saatnya bertuli denganmu si suara sumbang
Saatnya menegakkan layar mengasah kelewang

: rawe-rawe rantas, malang-malang putung!

(terselip rindu cintaku pada pulau biru itu, dan dua pohon nyiur melambai padaku, dan mata air bening menyejukkanku, di kedalamannya dua ikan koi melenggok merayu. ini mimpiku. ini inginku. Semesta mendengarkanku.) 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s