CLBK

Oleh: Adi Rosadi, Fevi Machuriyati, Mawar Berduri, Neny Isharyanti (penyunting), Nina Karmila, Önald Änold, Puteri Salju Rahysta, Rifa Newton Vasquez, Supardi Purworejo, dan Vanera El-arj
Ingatan terlipat di sela helai waktu
tersisih dalam kertas menguning
namun tak terhempas ke keranjang sampah
sebab guratan cerita pada lembarnya
adalah bara penghangat hati:
kamu.
kemudian kala rindu datang
di deret kata kuceritakan kisah
dan semua merekah pada
kelopak yang haus akan kerinduan
adalah kita
Menghampakan imajinasi
Memahat rindu tak bercinta lagi
Mensuarakan sepi dalam deru nafas insani
Penggalan jemari tak mampu ternikmati
Aku menari dgn ketukan tak berisi
hilang irama demamku menjadi api
kutemukan kata simfoni di ritmis ini
kesunyian mendera lengangkan rasa
di jauh kala waktu begitu lalu
dan nada kembali mengurut kerut
Telah kutanggalkan baju cintaku
Dahagaku tak hilang aku dehidrasi
Kerontang tak tertandingi
Rembulan menendangku keji
Sementara matahari merentungkan perasaan ini
Pesona gelisahku tumbang mati
Ku tunggu kau di bangku kayu
di lapangan bola di ujung kota
Kubayangkan kau datang dengan lenggang khas menyampir tas di pinggang
Dekik pipimu saat tertawa
Selalu lepas dari pintu kenangan yang kupatri mati
Sebentuk bayangan jatuh di pangkuan
aku tengadah dan bertemu pandang denganmu
Ah, senyummu masih merayu
seperti dulu
di kilometer lima belas bulan kedelapan Ia pertemukan
kau setelah genap tahun keenambelas
: beribu macam nyanyian telah kau dendangkan
pada sebuah persimpangan kau diam
dengan tatap berkaca
: wajah lama menyapa dengan raut kesedihan
perjalanan masih sisakan waktu
bunga di tanganmu berubah air mata
: kaudekap erat sebuah diari
setelah sekian lama
tiada sapa dan canda
terhalang ruang dan masa
serta kehadiran cinta di persimpangan hatimu
kini
kau datang ceritakan yang telah terjadi
menyingkap kabut yang menyelimuti
menoreh kembali kisi kisi mimpi yang terusung pergi
dekapmu dalam kepedihan
serta luka yang pernah kita rasakan
tangan tangan kasih saling menggenggam
membelai penuh kemesraan
memegang cinta yang dulu pernah bersemayam
Membiarkanmu merobek hati
menyusupkan racun rindu disetiap desir nadi
meski sakit tetap saja nikmat kuakui
karena engkaulah jiwa dalam raga renta ini.
desah itu kembali mengulang resah
jejak jejak rotasikan nafasmu
malam diam memalu
ahh, doaku kembali berdosa!
Entah
Cinta itu melekat pada yang pertama
tapi abadi pada yang terakhir
-Dinding Facebook, 31 Agustus 2012-
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s