Dialog Rindu

Mengejar Mas-Mas di Melbourne
perempuan Jawa itu tersengal
di pusaran musim dingin
yang gigilnya menelikung hatinya
sampai ke seberang benua.

Dan tampaknya pengejarannya
justru terhenti di
seberang benua itu.
Dianja kelekatan
tak berbatas kilometer dan detik.
Wahai lelaki Jawa berhati samudera,
akankah kau peluk gigil hatinya
yang hampir terhisap pusaran ketidak pastian?

Lelaki Jawa menancapkan
keris metta perkasa
di hati perempuan Jawa,
menembangkan Megatruh untuk
memotong keresahan sukma sendiri
yang terasing di tanah beku,
pun debu debu telah digubahnya
menjadi dentuman doa,
yang dipujakan bagi
kebahagiaanmu
Duhai Perempuanku

Sebatas doa pun terpuja
dalam pendengaran Sang Abadi
sebab tak sepotong kata pun
terlewat dalam khilaf.
Dan selamanya keris metta itu
tertancap di tanah merah semesta.
Lelaki Jawa dan perempuan Jawa
manunggal dalam segala pusaran
keniscayaan alam raya.
Dan apalah makna
sepi, sendiri, resah, gigil, asing, tak pasti,
ketika namamu tereja
dalam rindu musim dingin tak kenal waktu?

Perempuan Jawa dipeluknya erat
dalam gelegak metta,
melarutkannya dalam pusaran sahasrara cakra
dan
merebahkannya dalam keabadian nirvana
ketika cahaya sudah padam
dan yang ada adalah kasunyatan,
engkau dan aku jadi satu

Melbourne-Cikarang, 12 Juli 2012, 08.07-08.28 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s