Sekecap Coklat: Menyambar Ide Secara Kreatif

Seringkali penulis puisi mengeluhkan kemandegan getar kreatifnya karena ketiadaan ide. Namun sebenarnya, ide itu bisa muncul kapan saja, di mana saja, dari mana saja. Demikian pula sajian puisi SEKECAP COKLAT berikut ini. Bermula dari usulan Dewi Kelana, salah seorang anggota Kumandang Sastra (atau KuSas, sebuah perkumpulan penulis puisi di Facebook) untuk menuliskan puisi kolaborasi berdasarkan celetukan salah satu anggota yang lain yang terus menerus menyebutkan kata “coklat” karena dia tengah mengunyah sebatang coklat sambil mengobrol santai bersama anggota KuSas yang lain melalui fasilitas chat di Facebook. Spontan dan mengalir saja ketika usulan tersebut diekspresikan dengan menulis sebait pendek yang ditimpali dengan bait-bait pendek selanjutnya melalui fasilitas dinding kelompok di Facebook.
Sederhana saja sebuah ide itu muncul, dan sesederhana pula ide itu disambar secara kreatif. Yang dibutuhkan adalah memanfaatkan spontanitas dan mewujudkan energi kreatif itu menjadi sebuah puisi. Dan terciptalah sebuah puisi kolaborasi. Bagaimana menurut Anda?
Salam sastra, Neny Isharyanti (editor)
===================================================
SEKECAP COKLAT
Oleh:  Dewi Kelana, Onald Anold, Kesatria Bergitar, dan Neny Isharyanti
melumer di lidah manis legit rasuki hati
serasa layang melayang terayun mimpi
dan mimpi buruk tiba
kalau lumeranmu
ternganga parah
diaduk tiada
: itu buah cinta kekasih, tergolek dua batang di ranjang sepi
oh manis itu
legit itu
membuai rasa birahi
hangatkan sunyi malam
lumer
lumerlah dalam kuluman
dan bercumbu dalam
pahitnya mimpi buruk
dan menyadari bahwa
hangatnya adalah
absurd dan maya
: dan manis coklat ku kini tinggal ilusi.
Sejauh ilusi ini
beredar
mimpi akan seturut
ranjang sepi kita, Kekasihku
dan kucumbui
pahit manisnya
dalam birahi malam
yang terkulum sepi.
Dan hati akan
terkunci
dalam lumeran
separuh mimpi.
Probolinggo-Jakarta-Cirebon-Melbourne
4 Juli 2012
KONTRIBUTOR
Dewi Kelana – Pemilik nama K Pudji Peristiwati ini lahir 30 Juni 1963. Lulusan UNDIP Semarang dengan status ibu rumah tangga. Suka menulis puisi sejak SMP, puisinya pernah di muat di majalah remaja th 1977 (lupa judul dan nama pena yg dipakai). Lama vakum dan aktif kembali sejak awal 2000an di Yahoo answer ( 1 th), namun tak pernah menyimpan filenya. Kembali aktif di facebook, hingga sekarang.
Onald Anold – pemilik nama asli Ronald Pangaribuan ini adalah putra Batak kelahiran betawi. Penyuka puisi dan pemrakarsa ”Cinta tanpa Warna”
Kesatria Bergitar – mengaku sebagai seorang pengangguran dengan kerja tak karuan, berkantor di pinggiran jalan dan tak lebih sekedar bocah ingusan. Tinggal di cirebon, suka baca puisi dari SD. Teh, PC, dan puisi adalah prioritas, menurutnya.
Neny Isharyanti – menulis puisi sepanjang sempat dan niat. Suka memrovokasi para anggota KuSas dengan ide-ide yang terdengar gila tapi bisa menghasilkan sesuatu yang tidak mainstream. Dalam dunia nyata, tinggal di Melbourne, Australia, dan “pura-pura” menjadi mahasiswa yang baik dan benar menurut kaidah akademis, sebelum nantinya kembali ke Salatiga untuk menjadi dosen dan memrovokasi mahasiswanya agar tidak sekedar menjadi manusia satu dimensi.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s