Keris Bangsa

Oleh: Önald Änold, Neny Isharyanti, dan Martinus Bong

tusukan itu abadi membekas
ada kedigjayaan yang mengiringi
menjadi sosok tuhan dalam Arok
turun temurun terjerembab

tulah mengiring
mengikuti lekuknya
jaya mukti
sirna tumpas
homo homini lupus

padahal sudah tidak zaman manusia buta
tapi kok ya saling mangsa
membabi buta tanpa irama
yang penting menang laga

ada yang bilang sejarah mengulang kejahatan terulang
mungkin itu kebodohan yang terulang
atau kemanusiaan tak mampu menghalang
sebab asal muasalnya adalah
segala sisi manusiawi yang terbuang

l’histoire sa repete
lebih banyak manusianya mele-mele
padahal setiap membeli harus membayar
bagaimana mungkin tidak tersasar

itu ayah kami raja di raja si maharaja
mari menyembah wakil para paderi
negeri penuh berkah dan amanah
sarungkan senjata berdoa saja kalian

dan bila puja doa-doa jadi sedu sedan
bertopengkan wajah mulia
sejarah pun dibuang ke keranjang sampah
dan yang tersasar tetaplah terseok-seok
dalam labirin sejarah yang berliku-liku bak keluk keris
tapi tegak lurus bagi yang waskita

tusukan itu membekas
lepas menghempas ribuan doa
menyambut tulah
memilah-milah berkah

tampaknya tulah keris itu masih menganga.

Jakarta-Melbourne, 26 Juni 2012

Published in Rima News
(http://rimanews.com/read/20120626/67354/tiga-puisi-kolaborasi-sebuah-intensitas-imagi-dan-religi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s