Balada Sang Penyair dan Sang Kelana (2)

di bandar langit itu dengarlah
kelana perempuan
menangkupkan sayapnya
letih melintasi samudera
letih memintasi benua merah tanah itu
di bandar langit itu entah kenapa segala
asanya berpendar di gamang pelangi
sebotol anggur merah diteguknya meronakan
sayap sayap putihnya dalam mabuk kerinduan
seorang penyair pertapa tertegun dalam padmasana
menatap kelana betina bersayap penuh warna
pertapa kesepian tersenyum di atas teratainya
wajahnya pasi dalam mantra mantra
“wahai kelana betina bersayap warna emas kini
apakah aku harus mabuk bersamamu
menertawai padang padang sabana itu?”
sementara kelana akan terus berkisar
sayap emasnya mengepak dalam cahaya
“kalau kau ingin mabuk, wahai pertapa
tidakkah kau hanya memenuhi
janji dalam namamu?
kaulah dewa yang mabuk
dalam ekstasi negeri para peri”
“dan bukankah sang kelana adalah
saktimu yang kau puja
dalam cahaya perkasamu?
tak akan bisa pertapa
menumpas raksasa sendirian
hingga kau hadirkan sang sakti
sang dewi
hingga binasa raksasa kesepianmu
sayap-sayap emas itu tak akan tumbuh
jika tak terucap mantra-matramu.”
“Jadi rengkuhlah saktimu
sebab rindu yang berkepanjangan
di benua tanah merah itu
telah berhibernasi dipeluk beku hati”
dan di bandar langit itu
sang pertapa dan kelana betina akan menyublim
dalam nyanyian mabuk rindu matahari.
Cikarang-Melbourne
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s