Tainted

of that in LOVE: us

of the ticktock
of the time
of the piece
of the life
that we shared,
that feeling is
that uncertainties
that linger
in each couple
in love
in a borrowed time
in this kind of relationship.

Lavish Overt Vivid Encounters
of our earthly pleasure
that we regard as heaven
in this fragile universe:
Names of individual ours,
Yes, they are intertwined in prayers.

 

Cium Aku!

Jika ciuman itu memabukkan
aku tak perduli
karena darimu ketersediaannya seperti
air di musim penghujan
yang selalu kunikmati sepanjang waktu
terlebih karena kau selalu royal
menciumku kapan saja, di mana saja, karena apa saja
sebab cinta adalah koruptor berkubang
dalam nikmat nafsu yang mewah.

Tapi ini musim kemarau
karena rindu ciummu entah terjatuh di
samudera mana
dalam jarak 12 ribuan kilometer ini
semacam ledeng mampet di kotaku
walaupun sumber airnya tampaknya
tak pernah pelit membagi
tapi pipa-pipa tersumbat
karena biaya pemeliharaannya
digerogoti entah oleh kantor yang mana.

 

Dua musimmu.
Empat musimku.
Kalikan tiga.
Jangan hitung berapa ciuman
yang terkapar dalam ruang sepenggal
yang dinamai ruang hampa megap-megap
sesak napas terburu rindu
serasa diburu KPK operasi tangkap tangan.

Penjarakan aku
dalam rindu ciummu
mungkin di situ
kesadaranmu terganggu
akan ingatan akan hadirku
lalu kita bercumbu
dalam lamun
sampai bertemu
beberapa musim lagi!

————————-

Postcript: Susah sekali menulis puisi setahun terakhir, karena saya dilimpahi rasa cinta yang tumpah ruah. Butuh mengalami patah hati biar bisa menulis puisi yang nendang sampai ke ulu hati. Kasih tak sampai memang bisa sangat menginspirasi orang bersajak termehek-mehek. Saya pun pernah begitu. Blog sebelah apa lagi. Iya. 

 

Jelajah Masa Lalu

+YK

Dalam jelajah masa lalu
aku terjerembab dalam pilu
ya, ya, sebodoh itu menjejak lubang-lubang
tanpa pikir akan terantuk lalu terperosok.

Sungguh berbahaya ingatan
menawarkan sendu ketika waktu itu
bahkan aku tak ada dalam figura
jadi kenapa harus risau ketika tentu tak ada namaku?

Pikiran boleh bersabda dalam dinginnya logika
mengiris tanpa ampun dengan tajam dan perlahan
Hati tak selalu setuju dalam diamnya perih
mengajuk tanpa mau tahu dengan degil dan kerap.

Mari lari saja ke utara, ke timur, ke selatan, ke barat
Ke mana saja, asal tak bertemu hantu masa lalu.
Sebelum kita bertaut jemari pergi, bisikkan di telingaku,
“Sayang, itu cuma cerita masa lalu..”

Kemarin Mantan Menyapa

+ PBS
20170105_102700.jpg

Melupakan Kenangan

20161221_114350.jpg“Akan tiba masanya kau akan melupakanku…” Matanya yang selalu berbinar penuh energi itu tiba-tiba meredup sayu menatapku. Ditopangnya dagu yang serupa sarang lebah menggantung itu dengan tangan kiri, lalu matanya beralih ke luar jendela, meneliti satu demi satu awan putih di langit biru bulan September.

“Tidak usah omong yang aneh-aneh. Ayo, minum susu coklatmu. Tampaknya sudah hampir dingin.” Aku menanggapinya dengan nada datar, seolah tak menganggap apa yang barusan diucapkannya itu sesuatu yang penting dan serius.

“Ya, ya, nanti kuminum.” Ucapnya separuh melayang dalam pikirannya sendiri. Matanya tetap berada dalam dunia awan-awan putih di langit biru bulan September.

Aku jadi khawatir. Sudah 3 tahun aku mengenalnya dan kalau pengenalanku atas dirinya cukup mendalam, aku tentu menyadari bahwa ketika ia berubah menjadi pendiam dan melamun, dan tidak seberisik biasanya, tentu ada hal-hal yang mengganggu pikirannya.

“Menurutmu siapa yang akan lebih dulu lupa? Aku atau kamu? Aku bertaruh pasti kamu duluan yang melupakanku…” Tiba-tiba matanya yang bulat itu beralih memandangku. Di kedalamannya kulihat tanya.

“Aku tak tahu, Rei, tapi kamu tahu aku tak bisa menjanjikan apa pun padamu.”

“Iya. Itu sebabnya aku yakin sekali kamu akan duluan lupa.”

“Daripada memperdebatkan siapa yang duluan lupa, lebih baik kita menciptakan kenangan-kenangan, Rei. Selagi kita bisa.”

“Buat apa menciptakan kenangan kalau kemudian melupakannya?”

Hmm. Logikanya mengiris tajam seperti pisau yang dengan mudah membagi kue keju di hadapanku menjadi dua. Tentu saja kenangan hanya bisa dinikmati ketika ada ingatan. Ingatan hanya ada ketika tak lupa. Mengingat dan melupakan berada di dua ujung kutub yang berlawanan. Mustahil ada seiring sejalan.

“Mari kita nikmati saja kue keju ini, Rei. Ini kesukaanmu, bukan?”

“Kau mengalihkan topik…”

“Tidak. Aku hanya tak ingin memikirkan hal-hal yang aku tak pasti di masa depan. Aku hanya tak ingin menjanjikan hal-hal yang aku tak pasti di masa depan.”

“Jadi kita ini sedang apa? 3 tahun ini bermakna apa?”

“Kita menciptakan kenangan-kenangan yang pasti, yang bisa terasa, yang bisa kita ingat. Hingga saatnya kita memutuskan untuk lupa.”

“Tuh kan. Kau akan memutuskan untuk melupakanku.” Kali ini matanya membasah.

Aku menciumnya. Lama. Dalam. Merasakan air matanya membasahi pipiku. Sementara di luar, matahari menghilang di balik awan. Di sakuku, telepon genggamku memperdengarkan nada panggil yang khas. Calon istriku menunggu.

-fin-