Of the Land of the Queen

IMG_20170117_133103Oh, that gloomy day of England and its shivery night!
Over the hills of Windermere and Thirlmere
and the tall buildings of University of Manchester
I witnessed the sky turning from grey to blue to grey
and braced the North West wind swooshing passed my face.

I used to speak ill of the land of the Queen,
as the tropical girl in me foolishly rejected the mere thought
of living in such an awfully depressing weather.
Why, it would dampen my sunny cheerful spirit of forever Summer!
Wouldn’t I be a sorry soul, should I had to endure its constant rain and cold?

Yet, it grows into me, methinks, after twelve rounds of the moon,
as I am back in the perimeter of the equator
back in the place, I call permanently forever my home,
a longing feeling nagging in my soul that I can’t no longer ignore:
please let me be back to the gloomy, windy, cold, yet serene England.

 

Advertisements

Tainted

of that in LOVE: us

of the ticktock
of the time
of the piece
of the life
that we shared,
that feeling is
that uncertainties
that linger
in each couple
in love
in a borrowed time
in this kind of relationship.

Lavish Overt Vivid Encounters
of our earthly pleasure
that we regard as heaven
in this fragile universe:
Names of individual ours,
Yes, they are intertwined in prayers.

 

Cium Aku!

Jika ciuman itu memabukkan
aku tak perduli
karena darimu ketersediaannya seperti
air di musim penghujan
yang selalu kunikmati sepanjang waktu
terlebih karena kau selalu royal
menciumku kapan saja, di mana saja, karena apa saja
sebab cinta adalah koruptor berkubang
dalam nikmat nafsu yang mewah.

Tapi ini musim kemarau
karena rindu ciummu entah terjatuh di
samudera mana
dalam jarak 12 ribuan kilometer ini
semacam ledeng mampet di kotaku
walaupun sumber airnya tampaknya
tak pernah pelit membagi
tapi pipa-pipa tersumbat
karena biaya pemeliharaannya
digerogoti entah oleh kantor yang mana.

 

Dua musimmu.
Empat musimku.
Kalikan tiga.
Jangan hitung berapa ciuman
yang terkapar dalam ruang sepenggal
yang dinamai ruang hampa megap-megap
sesak napas terburu rindu
serasa diburu KPK operasi tangkap tangan.

Penjarakan aku
dalam rindu ciummu
mungkin di situ
kesadaranmu terganggu
akan ingatan akan hadirku
lalu kita bercumbu
dalam lamun
sampai bertemu
beberapa musim lagi!

————————-

Postcript: Susah sekali menulis puisi setahun terakhir, karena saya dilimpahi rasa cinta yang tumpah ruah. Butuh mengalami patah hati biar bisa menulis puisi yang nendang sampai ke ulu hati. Kasih tak sampai memang bisa sangat menginspirasi orang bersajak termehek-mehek. Saya pun pernah begitu. Blog sebelah apa lagi. Iya. 

 

Jelajah Masa Lalu

+YK

Dalam jelajah masa lalu
aku terjerembab dalam pilu
ya, ya, sebodoh itu menjejak lubang-lubang
tanpa pikir akan terantuk lalu terperosok.

Sungguh berbahaya ingatan
menawarkan sendu ketika waktu itu
bahkan aku tak ada dalam figura
jadi kenapa harus risau ketika tentu tak ada namaku?

Pikiran boleh bersabda dalam dinginnya logika
mengiris tanpa ampun dengan tajam dan perlahan
Hati tak selalu setuju dalam diamnya perih
mengajuk tanpa mau tahu dengan degil dan kerap.

Mari lari saja ke utara, ke timur, ke selatan, ke barat
Ke mana saja, asal tak bertemu hantu masa lalu.
Sebelum kita bertaut jemari pergi, bisikkan di telingaku,
“Sayang, itu cuma cerita masa lalu..”

Kemarin Mantan Menyapa

+ PBS
20170105_102700.jpg